PSIKOLOGI SEBAGAI ILMU

Selasa, 24 April 2012


PENGANTAR PSIKOLOGI

“ PSIKOLOGI SEBAGAI ILMU ”

BAB I
PENDAHULUAN

Perkataan psikologi sering di artikan atau di terjemahkan dengan ilmu pengetahuan tentang jiwa atau di singkat dengan ilmu jiwa.

 Namun menurut Gerungan seorang ahli psikologi berpendapat bahwa:
·         Ilmu Jiwa merupakan istilah bahasa Indonesia sehari-hari yang memiliki arti luas, di fahami banyak orang dan meliputi segala pemikiran, pengetahuan, tanggapan, tetapi juga segala khayalan serta spekulasi mengenai jiwa.
·         Psikologi merupakan suatu istilah “ ilmu pengetahuan ” yang meliputi ilmu pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah yang memenuhi syarat-syaratnya yang di mufakati sarjana-sarjana psikologi pada zaman sekarang ini.   


Dengan demikian, apa saja yang disebut “ ilmu jiwa ” itu belum tentu “ psikologi ”, tetapi psikologi itu senantiasa ilmu jiwa. Sehingga yang dipelajari psikologi bukan jiwa manusia secara langsung, tetapi manifestasi dari keberadaan jiwa berupa perilaku dan hal-hal lain yang berhubungan dengan perilaku.
                                                 
            Pentingnya psikologi adalah untuk memahami sesama manusia, dengan tujuan untuk dapat memberlakukan dengan lebih baik, oleh karena itu pengetahuan psikologi mengenai anak didik dalam proses pendidikan adalah hal yang perlu dan penting bagi setiap pendidik, sehingga seharusnya adalah kebutuhan setiap pendidik untuk memiliki pengetahuan tentang psikologi pendidik.












BAB II
PEMBAHASAN


A.     Pengertian Psikologi

Psikologi yang dalam istilah lama di sebut ilmu jiwa berasal dari kata bahasa inggris psychology. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa greek ( Yunani ), yaitu  psyche yang berarti jiwa, logos yang berarti ilmu. Jadi, bisa diambil kesimpulan tentang definisi psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mempelajari, menganalisis, menerapkan, dan memimpin proses-proses pendidikan sedemikian rupa, sehingga timbul sistem pendidikan yang efisien.

Psikologi sebagai ilmu merupakan pegetahuan yang di peroleh  dengan pendekatan ilmiah, dan merupakan pengetahuan yang di peroleh dengan penelitian-penelitian ilmiah. Oleh karenanya sebagai salah satu ciri psikologi sebagai suatu ilmu adalah berdasarkan data empiris di samping data tersebut di peroleh secara sistematis, ( Morgan, dkk,1984 ). Namun, lebih spesifik lagi psikologi lebih banyak di kaitkan dengan kehidupan organism manusia. Bruno (1987), membagi pengertian psikologi dalam tiga bagian yang pada prinsipnya saling berhubungan. Pertama psikologi adalah studi(penyelidikan) mengenai “ruh”. Kedua, adalah ilmu pengetahuan mengenai “kehidupan mental”. Ketiga, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “tingkah laku” organism.

Psikologi sebagai suatu ilmu, mempunyai tugas-tugas atau fungsi-fungsi tertentu seperti ilmu-ilmu pada umumnya. Adapun tugas-tugas psikologi ialah:
a.       Mengadakan deskripsi, yaitu tugas untuk menggambarkan secara jelas hal-hal yang di bicarakan.
b.      Menerangkan, yaitu tugas untuk menerangkan keadaan yang mendasari terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut.
c.       Menyusun Teori, yaitu tugas mencari dan merumuskan ketentuan-ketentuan mengenai hubungan antara peristiwa satu dengan peristiwa yang lain.
d.      Prediksi, yaitu untuk membuat ramalan mengenai hal-hal yang mungkin terjadi.
e.       Pengendalian, yaitu tugas untuk mengatur peristiwa-peristiwa atau gejala.

Seperti yang dipaparkan di depan kerena psikologi merupakan suatu ilmu, maka dengan sendirinya psikologi juga mempunyai ciri-ciri seperti ilmu-ilmu yang lain seperti,
§  Objek tertentu
§  Metode pendekatan atau penelitian tertentu
§  Mempunyai riwayat atau sejarah tertentu
§  Sistematika yang teratur sebagai hasil pendekatan terhadap objek



Tujuan mempelajari psikologi:
ü  Untuk membantu guru dan calon guru agar menjadi lebih bijaksana membimbing anak didiknya dalam hubungannya dengan proses pertumbuhan belajar.
ü  Agar para guru dan calon guru memiliki dasar-dasar luas dalam mendidik pada umumnya, dan bidang keahliannya pada khususnya, sehingga anak didiknya lebih baik dalam belajar.
ü  Agar para guru dan calon guru dapat menciptakan suatu sistem yang lebih efisien dengan jalan mempelajarinya dan menganalisis tingkah laku anak didik dalam proses-proses pendidikan yang berlangsung. 

Manfaat mempelajari psikologi pendidikan:
v  Bisa memahami anak didiknya dan untuk sampai pada tahap ini kita perlu mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak sejak lahir.
v  Bisa mengetahui peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi dalam setiap fase serta faktor yang menunjang dan menghambat potensi-potensi dasar yang memiliki anak serta intelegensi dan bakat sifat-sifat serta cirri-ciri kepribadian anak.
v  Bisa memahami hal-hal yang berhubungan dengan masalah belajar dan mengejar serta vareasi serta modelnya.
B.     Objek Formal dan Material
                    i.            Objek material : objek material ilmu adalah objek yang bersifat umum, dilihat dari wujudnya yaitu yang menjadi sasaran suatu ilmu pengetahuan. Objek material psikologi adalah manusia.
                  ii.            Objek formal : objek yang bersifat spesifik, dari segi tertentu yaitu objek material yang dibahas. Objek formal psikologi adalah perilaku manusia dan hal-hal yang berkaitan dengan proses tersebut.
Kedua Objek ilmu pendidikan ini memiliki keterkaitan. Misalnya ilmu sosial dan ilmu psikologi yang kedua macam ilmu pengetahuan itu mempunyai objek material sama yaitu manusia, akan tetapi obyek formalnya berbeda. Ilmu sosial membahas manusia dari sudut pembahasan kehidupan individu dan interaksinya antar masyarakat, sedangkan ilmu psikologi membahas manusia dari sudut pembahasan jiwa dan pikiran dari individu itu sendiri. Oleh karena itu obyek material (sasaran yang dipelajari) ilmu pengetahuan dapat sama, sedang obyek formalnya (sudut pembahasannya) berbeda.

C.     Metode Penyelidikan

Metode penyelidikan dalam suatu ilmu merupakan keharusan mutlak. Apalagi kalau ilmu itu telah berdiri sendiri, ini harus ditandai oleh metode-metode tersendiri untuk menyelidiki terhadap obyeknya. Obyek psikologi adalah penghayatan dan perbuatan manusia, yaitu perbuatan manusia dalam alam yang kompleks dan selalu berubah. Jiwa bukanlah benda yang mati, tetapi sesuatu yang hidup dinamis; selalu berubah untuk menjadi kesempurnaannya. Oleh karena itu penggunaan sesuatu metode yang tumbuh baiknya pun tak dapat menghasilkan kebenaran yang mutlak. Sebab dalam berbagai metode mempunyai titik kelemahan-kelemahan di samping kebaikan- kebaikannya.
Berdasarkan renungan-renungan dan pengalaman-pengalaman maka didapatkan metode-metode sebagai berikut:

C.1. Metode yang Bersifat Filosofis
1) Metode Intuitip
Metode ini dilakukan dengan cara sengaja untuk mengadakan suatu penyelidikan atau dengan cara tidak sengaja dalam pergaulan sehari-hari. Langkah ini justru pertama yang paling besar perannya dalam pengambilan kesimpulan. Dalam metode ini kurang memenuhi syarat, karena harus dikombinasikan dengan metode-metode lain guna memperoleh kesimpulan yang valid.
2) Metode Kontemplatif.
Metode ini dilakukan dengan jalan merenungkan objek yang akan diketahui dengan mempergunakan kemampuan berpikir kita. Alat utama yang dipergunakan adalah pikiran yang benar-benar sudah dalam keadaan obyektif. Kalau ini dapat dicapai, maka pikiran benar-benar dalam keadaan obyektif sehingga dapat mencapai hakekat obyek yang dituju.
3) Metode Filosofis Religius
Metode ini digunakan dengan mempergunakan materi-materi agama, sebagai alat utama untuk meneliti pribadi manusia. Nilai-nilai yang terdapat dalam agama itu merupakan kebenaran-kebenaran absolut dan pasti benar. Tuhan memerintahkan manusia untuk mengajak orang lain kepada jalan kebenaranNya dengan menggunakan metode-metode yang baik, di firmankan dalam Al Qur'an :
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ َ       
“Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan metode dan tutur kata yang baik dan bantahlah mereka dengan metode yang paling baik.” ( Q.S. An Nahl,-125).



C.2. Metode yang Bersifat Empiris
1). Metode observasi
Metode untuk mempelajari kejiwaan dengan sengaja mengamati secara langsung, teliti dan sistematis. Dalam hal ini observasi dapat melalui tiga cara, yaitu:
(a) Introspeksi
Suatu cara meneliti/menyelidiki keadaan atau peristiwa yang terjadi di dalam dirinya pribadi. Misalnya orang meneliti bagaimana proses berfikir, berperasaan, berkehendak yang berlangsung di dalam dirinya, kemudian hasilnya diuraikan atau ditulis oleh yang bersangkutan, untuk bahan pemahaman tentang keadaan jiwa seseorang tentang hal-hal yang diperlukan. Di dalam Islam terdapat perintah untuk mengadakan introspeksi ini dengan kata-kata:
“Introspeksilah dirimu sendiri sebelum kamu di ekstrospeksi orang lain”.
Dengan adanya kelemahan dalam metode ini, maka timbullah metode lain yang menggabungkan metode introspeksi dengan metode eksperimen, yaitu metode “Introspeksi eksperimental”.
(b) Introspeksi Eksperimental
Metode yang dilaksanakan dengan mengadakan eksperimen- eksperimen secara sengaja dan dalam suasana yang dibuat. Metode ini merupakan penggabungan metode introspeksi dan eksperimen, Pada introspeksi eksperimental jumlah subyek terdiri dari beberapa orang yang di eksperimentasi. Sehingga dengan banyaknya subyek penyelidikan hasilnya akan lebih bersifat obyektif.


(c) Ekstrospeksi
Suatu metode dalam ilmu jiwa yang berusaha untuk menyelidiki atau mempelajari dengan sengaja dan teratur gejala-gejala jiwa sendiri dengan membandingkan gejala jiwa orang lain dan mencoba mengambil kesimpulan dengan melihat gejala-gejala jiwa yang ditunjukkan dari mimik dan panto mimik orang lain.

2). Metode Pengumpulan Bahan
Suatu metode dalam ilmu jiwa yang berusaha untuk menyelidiki atau mempelajari dengan sengaja dan teratur gejala-gejala jiwa sendiri dengan membandingkan gejala jiwa orang lain dan mencoba mengambil kesimpulan dengan melihat gejala-gejala jiwa yang ditunjukkan dari mimik dan panto mimik orang lain.
Suatu penyelidikan yang dilakukan dengan mengolah data-data yang didapat dari kumpulan-kumpulan daftar pertanyaan dan jawaban (angket), bahan-bahan riwayat hidup ataupun bahan-bahan lain yang berhubungan dengan apa yang sedang diselidiki. Dalam rangka mendapatkan data dengan teknik pengumpulan bahan ini peneliti dapat menempuh dengan 3 cara :
a. angket – interview
b. metode biografi
c. metode pengumpulan bahan



3). Metode Eksperimen
Tujuan eksperimen ialah untuk mengetahui sifat-sifat umum dari gejala-gejala kejiawaan. Misalnya mengenai pikiran, perasaan, kemauan, ingatan, fantasi, dan lain sebagainya. Pengamatan secara teliti dalam metode ini menguji hipotesa pembuat eksperimen tentang reaksi-reaksi individu atau kelompok dalam suatu situasi tertentu atau di bawah kondisi tertentu. Pemakaian metode ini, dalam mempelajari kejiwaan manusia adalah merupakan kemajuan yang diperoleh psikologi ketika Wilhelm Wundt seorang berkebangsaan Jerman ( 1832-1920 ) mendirikan “Laboratorium Psikologi” yang pertama di Leipzig pada tahun 1879.
4). Metode Klinis
Kline diartikan tempat tidur, klino diartikan berbaring, kliniek diartikan lembaga untuk meneliti dan menyembuhkan penyakit. Metode yang diterapkan dalam psikologi ialah kombinasi dari bantuan klinis medis dengan metode pendidikan untuk melakukan observasi terhadap para pasien. Obsevasi dilakukan dalam ruang-ruang klinik dengan fasilitas yang cukup, untuk meneliti segala tingkah laku pasien. Metode klinis sering dipergunakan oleh para psikolog ( Freud dan pengikut-pengikutnya ) dan psikolog anak. Sebab orang memaklumi, bahwa para penderita ganguan jiwa dan anak-anak kecil pada umumnya tidak mampu melakukan introspeksi terhadap dorongan-dorongan dan tingkah laku sendiri.
5). Metode Interview
Merupakan metode penelitian dengan menggunakan pertanyaan- pertanyaan yang diberikan secara lisan. Suatu hal yang penting pada interview ialah membuat pertanyaan-pertanyaan sedemikian rupa , sehingga yang diinterview tidak merasa diinterview.
6). Metode Testing
Metode ini merupakan metode penyelidikan yang menggunakan soal-soal ,pertanyaan-pertanyaan, atau tugas-tugas yang lain yang telah distandarisasikan . Dillihat dari caranya orang mengerjakan test. Seakan- akan seperti eksperimen, namun kedua metode ini berbeda. Pada eksperimen, orang dengan sengaja mengeterapkan “treatment” dan ingin mengetahui dari teatment tersebut. Pada test orang ingin mengetahui kemampuan-kemampuan atau sifat-sifat lain dari test. Mental testing dipergunakan untuk menyelidiki intelegensi seseorang. Berdasarkan test Binet orang mendapatkan taraf intelegensi yang sering disebut “intelegensi quotion”

Dari berbagai macam metode-metode yang telah di sebut kan tidak dapat ditentukan mana yang paling tepat dan paling baik, masing-masing punya kelemahan sendiri, sebab manusia yang membuat juga yang menjadi objeknya. Namun demikian metode-metode yang telah dibuat, bukan berarti tidak ada artinya, tetapi sebagai ikhtiar manusia dalam menuntut ilmu pengetahuan.

D.     Sejarah Singkat Psikologi

Sejak zaman yunani kuno jiwa manusia sudah menjadi topik diskusi di kalangan ilmuan, para filosof dan para ahli fasal( phisiolologi). Pada masa ini psikologi masih menjadi bagian dari filsafat dan belum menjadi disiplin ilmu sendiri. Adapun para ahli filsafat kuno seperti Plato(427 – 347 SM),Aristoteles (384 – 322 SM), Socrates (469 – 399 SM), telah memikirkan hakikat jiwa dan gejala- gejalanya. Filsafat sebagai induk pengetahuan yang mencari hakikiat sesuatu dengan menciptakan pertanyaan dan jawaban secara terus-menerus sehingga mencapai pengertian yang hakiki tentang sesuatu. Pada zaman ini belum ada pembuktian secara empiris melainkan berbagai teori dikemukakan berdasarkan argumentasi logika belaka.
Pada abad pertengahan, psikologi masih merupakan bagian dari filsafat sehingga objeknya tetap hakikat jiwa. Tokoh-tokohnya antara lain, Rene Descartes ( 1596 – 1650) terkenal dengan teori tentang kesadaran, Gottfried Wolhelm Leibniz ( 1646 – 1716) dengan teorinya kesejahteraan psikofhisik (psychophysical parallelism) dan Jhon Locke dengan teori Tabula rasa yang mengemukakan bahwa jiwa anak yang baru lahir masih bersih seperti kertas putih yang belum di tulisi. Pada masa sebelumnya para ulama muslim pun sudah membahas masalah kejiwaan seperti Imam Al-Ghazali (wafat 505 H), Imam Fachruddin Ar- Razi (wafat 324 H) dan lain sebagainya. Pembahasan masalah psikologis merupakan bagian dari ilmu Ushuluddin dan ilmu Tasawwuf.
Psikologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri  baru di mulai pada tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt (1832 – 1920)mendirikan laboratorium psikologi pertama di kota Leipzig, Jerman. Secara garis besarnya sejarah psikologi dapat di bagi dalam dua tahap utama yaitu, masa  sebelum dan sesudah menjadi ilmu yang berdiri sendiri.
Dulu ketika para ahli filsafat masih menggunakan logika, para ilmu faal juga mulai menyelidiki gejala kejiwaan melalui eksperimen-eksperime. Walaupun mereka menggunakan metode ilmiah ataun dengan kata lain di sebut juga Empiris namun mereka selidiki terutama tentang urat syaraf pengindraan (sensoris), syaraf penggerak(motoris). Dengan demikian gejala kejiwaan yang mereka selidiki hanya merupakan bagian dari objek ilmu faal. Tokohnya antara lain adalah: C Bell(1774 – 1842), F Magandie( 1758 – 1855) I.P Pavlov(1849 – 1936).
Masa sesudah psikologi menjadi ilmu yang berdiri sendiri merupakan masa dimana gejala kejiwaan dipelajari secara tersendiri  dengan metode ilmiah yang terlepas dari filsafat dan ilmu faal. Gejala kejiwaan di pelajari secara sistematis dan lebih bersifat objektif. Selain metode eksperimen digunakan pula metode instropeksi oleh W. Wundt. Dengan gelar kesarjanaan W. Wundt adalah bidang kedokteran dan hukum. Ia dikenal juga sebagai sosiolog dan filosof yang mengaku dirinya sebagai psikolog. Ia di anggap sebagai bapak psikologi, dan sejak itu  psikologi berkembang pesat dengan bertambahnya sarjana psikologi dan kearagaman pemikiran- pemikiran baru. Psikologi mulai bercabang ke dalam aliran baru.

E.     Kesimpulan

            Psikologi adalah ilmu jiwa untuk memahami sesama manusia, dengan tujuan untuk dapat memberlakukan manusia dengan lebih baik, oleh karena itu pengetahuan psikologi mengenai anak didik dalam proses pendidikan adalah hal yang perlu dan penting bagi setiap pendidik, sehingga seharusnya adalah kebutuhan setiap pendidik untuk memiliki pengetahuan tentang psikologi pendidik.
            Psikologi sebagai suatu ilmu, tidak lepas dari segi perkembangan dari psikologi itu sendiri serta ilmu-ilmu yang lain. Dari waktu ke waktu psikologi sebagai suatu ilmu akan mengalami perkembangan, sesuai perkembangan keadaan.
             Sehingga objek psikologi merupakan syarat mutlak dalam suatu ilmu. Sebab pengetahuan dapat di pandang sebagai suatu ilmu kalau pengetahuan itu di peroleh dengan penelitian ilmiah atau menggunakan metode ilmiah.





F.     Daftar Pustaka
·         Abu Ahmad,H.Drs, Psikologi Umum, Rineka Cipta, Jakarta, cet. II,1998.
·         Arifin.M.H.Drs,M.Ed, Psikologi dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniyah Manusia, Bulan Bintang, Jakarta, 1976
·         Daradjat Zakiah. Dr, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta,1976
·         http://www.scribd.com/doc/40009065/MAKALAH-METODE-PENELITIAN-DALAM-PSIKOLOGI (17-09-11)
·         Fauzi, Ahmad H. Drs, Psikologi Umum. Pustaka Setia. Bandung
·         Sarwono. Sarlito W, Pengantar Umum Psikologi. PT. Bulan Bintang. Jakarta. 2000
·         Walgito, Bimo., 2005, Pengantar Psikologi Umum, CV. Andi Offset, Yogyakarta
·         http: //burhanhito. Blogspot. Com / 2009/06/ definisi-psikologi-menurut-para-ahli.html
·         ebekunt.files.wordpress.com/2009/10/2-pengantar-psikologi.ppt





           










0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails

.

Blog Archive

Followers

Visitors

free counters