ALIRAN-ALIRAN DALAM PSIKOLOGI

Selasa, 24 April 2012


MAKALAH
ALIRAN -ALIRAN DALAM
 PSIKOLOGI



Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami limpahan rahmat sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah pada junjungan kita nabi Muhammad SAW beserta para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Makalah ini disusun dengan tujuan pertama memahami dan mendalami aliran-aliran dalam psikologi. Kedua memenuhi tugas diskusi dan pembuatan makalah secara kelompok. Adapun manfaat makalah ini adalah sebagai wahana pembelajaran pengantar psikologi agar dapat dipelajari oleh seluruh mahasiswa/mahasiswa khususnya jurusan Pendidikan Agama Islam kelas B.
Kami menyadari  bahwa makalah yang kami susun ini masih jauh dari sempurna, karena itulah kritik dan saran yang membangun dari dosen dan teman-teman sangat kami harapkan.





















BAB I
PENDAHULUAN

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kondisi kejiwaan manusia. Psikologi juga artikan ilmu yang mempelajari tentang keadaan manusia dalam berbagai aspek baik mengenai tanggapan terhadap lingkungan, aktivitas-aktivitasnya, pemikirannya, kehendaknya, maupun perasaan panca inderanya.
         Aliran-aliran dalam psikologi membahas tentang berbagai macam sifat psikologi dari beberapa ilmuwan psikologi. Ditinjau dari segi aliran psikologi dibagi menjadi beberapa, diantaranya :
a.       Psikologi Fungsionalisme
b.      Psikologi Behaviorisme
c.       Psikologi Gestalt/ kognitivisme
d.      Psikologi Psikoanalisis
e.       Psikologi Humanism
f.       Psikologi Transpersonal
g.      Psikologi Islam
  Dari ketujuh aliran psikologi diatas, kami akan membahas secara lebih rinci. Kemudian akan dijabarkan berdasarkan konsep-konsep dari sumber-sumber yang nyata dan referensi yang akurat. Sehingga akan melahirkan nilai-nilai dalam pembelajaran pengantar ilmu psikologi.

     














BAB II
PEMBAHASAN

Berikut ini adalah aliran-aliran dalam psikologi beserta penjelasannya:

1.    Psikologi Fungsionalisme  
                Sejak sekitar 1900 sampai memasuki 1930-an fungsionalisme digunakan dalam psikologi Amerika untuk membedakan teori-teori yang memfokuskan pada pembelajaran dan fungsi-fungsi adaptasional perilaku mulai dari mereka(seperti E.B. Titchener dan Gestalt Psichology(psikologi Gestalt)yang mempunyai perhatian pada hal-hal semacam struktur kesadaran dan pengalaman.                                                                                                                       Dalam Antropologi dan sosiologi, fungsionalisme merujuk pada penjelasan mengenai institusi social, kebiasaan, keyakinan, dan sebagainya, yang berhubungan dengan fungsi (peran atau tujuan) yang mereka mainkan dalam mempertahankan masyarakat yang dimaksud.                         Sebagai sebuah istilah umum, sekarang “penjelasan fungsionalis”biasanya berarti penjelasan dalam hal peran yang dijalani oleh sebuah fenomena baik secara sadar maupun tidak sadar, secara lahir maupun batin, pada individu, kelompok, maupun masyarakat(“fungsi social”)yang dimaksud.                                                                                                                       Ciri Fungsionalisme
  • Lebih menekankan pada fungsi mental daripada elemen-elemen mental.
  • Fungsi-fungsi psikologis adalah adaptasi terhadap lingkungan sebagaimana adaptasi biologis Darwin. Kemampuan individu untuk berubah sesuai tuntutan dalam hubungannya dengan lingkungan adalah sesuatu yang terpenting
  • Fungsionalisme juga sangat memandang penting aspek terapan atau fungsi dari psikologi itu sendiri bagi berbagai bidang dan kelompok manusia.
  • Aktivitas mental tidak dapat dipisahkan dari aktivitas fisik, maka stimulus dan respon adalah suatu kesatuan
  • Psikologi sangat berkaitan dengan biologi dan merupakan cabang yang berkembang dari biologi. Maka pemahaman tentang anatomi dan fungsi fisiologis akan sangat membantu pemahaman terhadap fungsi mental.
  • Menerima berbagai metode dalam mempelajari aktivitas mental manusia. Meskipun sebagian besar riset di Uni. Chicago (pusat berkembangnya aliran fungsionalisme) menggunakan metode eksperimen, pada dasarnya aliran fungsionalisme tidak berpegang pada satu metode inti. Metode yang digunakan sangat tergantung dari permasalahan yang dihadapi
Teori Evolusi Darwin
  • Pada saat manusia berinteraksi dengan lingkungannya, ia harus beradaptasi.
  • Proses adaptasi inilah yang menyebabkan terjadinya seleksi alam, baik dalam artian kelompok species yang unggul (Darwin) maupun dalam arti karakteristik dari species yang bertahan, misalnya anggota tubuh (Spencer).
  • Proses adaptasi sifatnya spesifik, hanya berlaku untuk lingkungan tertentu. Suatu kelompok species yang well-adapted dalam suatu lingkungan bisa saja tidak dapat beradaptasi pada lingkungan lain.
  • Sebagai seorang dualist yang percaya pada pemisahan mind-body, Darwin mengaplikasikan juga pandangannya ini kepada perkembangan fungsi mental makhluk hidup. Kelompok makhluk hidup yang paling sukses dalam beradaptasi dengan lingkungannya adalah mereka yang memiliki fungsi mental paling tinggi, dalam hal ini adalah manusia.
  • Pentingnya adaptasi ini menyebabkan aliran fungsionalisme sering dipandang sebagai ‘psychology of adaptation’.

2.    Psikologi Behaviorisme

      Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme.                                                                                                       Behaviorisme mempelajari tentang perbuatan manusia bukan dari perbuatannya, melainkan hanya mengamati tingkah laku berdasarkan pada kenyataan.segala perbuatan di kembalikan pada refleks. Aliran ini juga menganggap manusia dilahirkan sama,manusia hanya  makhluk yang berkembang karena kebiasaan dan pendidikan dapat mempengaruhi refleks sekehendak hatinya.                                                                                                                                               Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.                                                                                                                                  Meskipun pandangan Behaviorisme sekilas tampak radikal dan mengubah pemahaman tentang psikologi secara drastis, Brennan (1991) memandang munculnya Behaviorisme lebih sebagai perubahan evolusioner daripada revolusioner. Dasar-dasar pemikiran Behaviorisme sudah ditemui berabad-abad sebelumnya.

PRINSIP DASAR BEHAVIORISME

  • Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
  • Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
  • Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
  • Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
  • Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.

3.     Psikologi Gestalt
Istilah “Gestalt” mengacu pada sebuah objek/figur yang utuh dan berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya.                                                                                                                           Aliran Gestalt muncul di Jerman sebagai kritik terhadap strukturalisme Wundt. Pandangan Gestalt menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalam elemen-elemen yang lebih kecil karena dengan demikian, makna dari jiwa itu sendiri berubah sebab bentuk kesatuannya juga hilang.
A. Latar Belakang.
  • Kelompok Wuerzburg.
          Selain kelompok Wundt, di Jerman berkembang lagi sebuah kelompok intelektual yang ikatannya tidak sekuat kelompok Wundt, namun merasa tidak puas dengan pandangan Wundt. Aliran ini menekankan bahwa aktivitas mental dapat diwujudkan dalam kesadaran nonsensoris, merupakan awal pemikiran ttg higher mental process. Mind memiliki kategori-kategorinya sendiri, dan mampu membentuk organisasi mental, tidak harus muncul dalam bentuk aktivitas sensoris. Bentuk nyata dari pengorganisasian ini adalah pola-pola dari persepsi.
  • Pendekatan fenomenologis.
          Pendekatan ini memfokuskan pada observasi dan deskripsi detil dari gejala yang muncul, tanpa perlu menjelaskan latar belakang gejala atau menyimpulkan sesuatu dari gejala tersebut. Sehubungan dengan pandangan gestalt, pendekatan fenomenologis dari Edmund Husserl (1859 – 1938) sangat berpengaruh, observasi dan deskripsi detil mengenai aktivitas mental yang dirasakan individu.
B. Aplikasi prinsip Gestalt
Belajar
          Proses belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami proses belajar, terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah proses belajar terjadi, seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem.
Insight
          Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. Setelah adanya pengalaman insight, individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar, ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis.
Memory                                                                                                                                              Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Dengan berjalannya waktu, jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. Secara sosial, fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor.                                                Pandangan Gestalt cukup luas diakui di Jerman namun tidak lama exist di Jerman karena mulai didesak oleh pengaruh kekuasaan Hitler yang berwawasan sempit mengenai keilmuan. Para tokoh Gestalt banyak yang melarikan diri ke AS dan berusaha mengembangkan idenya di sana. Namun hal ini idak mudah dilakukan karena pada saat itu di AS didominasi oleh pandangan behaviorisme. Akibatnya psikologi gestalt diakui sebagai sebuah aliran psikologi namun pengaruhnya tidak sekuat behaviorisme.
Implikasi Gestalt
  • Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process, yang selama ini dihindari karena abstrak, namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya.
  • Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif, berfokus pada higher mental process. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi, insight,dan problem solving beroperasi. Tokoh : Tolman dan Koehler.
Kurt Lewin (1890-1947)
Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. Konsep utama Lewin adalah Life Space, yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Tugas utama psikologi adlaah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki batas-batas. Batas ini dapat dipahamis sebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya.Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion.                                                                                            Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium), maka terjadi ketegangan (tension). Perilaku individu akan segera tertuju untuk meredakan ketegangan ini dan mengembalikan keseimbangan.                                                                           4. Psikologi Psikoanalisis
Psikoanalisa dapat dikatakan sebagai aliran psikologi yang paling dikenal meskipun mungkin tidak dipahami seluruhnya. Namun psikoanalisa juga merupakan aliran psikologi yang unik, tidak sama seperti aliran lainnya. Aliran ini juga yang paling banyak pengaruhnya pada bidang lain di luar psikologi, melalui pemikiran Freud.

A.Latar belakang
•           Konsep mental yang aktif.
Konsep ini terutama dianut oleh para ahli di Jerman. Pada waktu ini peran dominan strukturalisme di Jerman telah diambil alih oleh aliran Gestalt. Paham Gestalt menganggap struktur pengorganisasian mental manusia adalah inherent. Struktur ini memungkinkan manusia belajar dan mendapatkan isi mental itu sendiri. Dengan demikian, Gestalt berfokus pada konsep mental yang aktif namun tetap empiris.
Psikoanalisa mengikuti keaktifan mental dari Gestalt (Freud dengan psikodinamikanya pada level kesadaran dan non kesadaran) namun tidak empiris. Tidak seperti aliran lainnya, psikoanalisa berkembang bukan dari riset para akademisi, tapi berdasarkan pengalaman dari praktek klinis.
•           Perkembangan treatment terhadap gangguan mental.
Pada masa ini penanganan terhadap penderita gangguan mental sangat tidak manusiawi dan disamakan dengan para pelaku kriminal serta orang-orang terlantar. Reformasi dalam penanganan penderita gangguan mental diawali dengan perbaikan fasilitas pengobatan, akhirnya mengarah pada perbaikan di bidang teknik terapi bagi gangguan emosional dan perilaku.
B. Tokoh-tokoh
1. Sigmund Freud (1856-1939)
Sepanjang masa hidupnya, Freud adalah seorang yang produktif. Meskipun ia dianggap sosok yang kontroversial dan banyak tokoh yang berseberangan dengan dirinya, Freud tetap diakui sebagai salah seorang intelektual besar. Pengaruhnya bertahan hingga saat ini, dan tidak hanya pada bidang psikologi, bahkan meluas ke bidang-bidang lain. Karyanya, Studies in Histeria (1875) menandai berdirinya aliran psikoanalisa, berisi ide-ide dan diskusi tentang teknik terapi yang dilakukan oleh Freud.

B.  Pemikiran dan teori
•           Freud membagi mind ke dalam consciousness, preconsciousness dan unconsciousness. Dari ketiga aspek kesadaran, unconsciousness adalah yang paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia (analoginya dengan gunung es). Di dalam unsconscious tersimpan ingatan masa kecil, energi psikis yang besar dan instink. Preconsciousness berperan sebagai jembatan antara conscious dan unconscious, berisi ingatan atau ide yang dapat diakses kapan saja. Consciousness hanyalah bagian kecil dari mind, namun satu-satunya bagian yang memiliki kontak langsung dengan realitas.
•           Freud mengembangkan konsep struktur mind di atas dengan mengembangkan ‘mind apparatus’, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id, ego dan super ego.
Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.
Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral.
Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah.
Ego selalu menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego. Apabila tuntutan ini tidak berhasil diatasi dengan baik, maka ego terancam dan muncullah kecemasan (anxiety). Dalam rangka menyelamatkan diri dari ancaman, ego melakukan reaksi defensif /pertahanan diri. Hal ini dikenal sebagai defense mecahnism yang jenisnya bisa bermacam-macam, a.l. repression.
c. Sumbangan Freud
•           Sebagai orang pertama yang menyentuk konsep-konsep psikologi seperti peran ketidaksadaran (unconsciousness), anxiety, motivasi, pendekatan teori perkembangan untuk menjelaskan struktur kepribadian
•           Posisinya yang kukuh sebagai seorang deterministik sekaligus menunjukkan hukum-hukum perilaku, artinya perilaku manusia dapat diramalkan
•           Freud juga mengkaji produk-produk budaya dari kacamata psikoanalisa, seperti puisi, drama, lukisan, dan lain-lain. Oleh karenanya ia memberi sumbangan juga pada analisis karya seni
d. Kritik Freud
•           Metode studinya yang dianggap kurang reliabel, sulit diuji secara sistematis dan sangat subyektif
•           Konstruk-konstruk teorinya juga sulit diuji secara ilmiah sehingga diragukan keilmiahannya. Beberapa konsepnya bahkan dianggap fiksi, seperti Oedipus complex
•           Bagi aliran behaviorist, yang dilakukan Freud adalah mempelajari intervening variable
Freud banyak memiliki murid. Tidak semuanya akan dibahas, hanya dua dari para pengikut itu yang akan dibahas di sini, yaitu Adler dan Jung.

2. Alfred Adler (1870-1937)
Adler mengembangkan yang disebut sebagai Individual Psychology. Banyak konsep Freud yang diikutinya, antara lain mengenai level kesadaran. Namun Adler menekankan pada faktor kesadaran/unsur ego . Teorinya banyak menyentuh unsur lingkungan sosial sehingga ia juga dikenal sebagai seorang psikoanalis sosial yang pertama. Sebagai seorang pengikut Freud, Adler memilih jalan berbeda dari Freud dan menganggap teori Freud sangat menekankan unsur seksual sehingga kurang realistis.
3. Carl Gustav Jung (1875-1961)
Dikenal mengembangkan Analytical Psychology. Sebagai murid Freud, Jung juga mengajukan keberatan terhadap beberapa konsep utama Freud yang menyebabkan hubungan keduanya renggang dan retak. Perbedaan utama Jung dan Freud terletak pada pandangan mereka tentang ketidaksadaran. Meskipun keduanya sama-sama menekankan ketidaksadaran sebagai penentu perilaku manusia (bahkan Jung lebih kuat dalam hal ini), tapi mereka berbeda posisi tentang asal ketidaksadaran ini. Freud mengatakan bahwa unsur seksual adalah faktor utama dan dominan dalam ketidaksadaran sementara Jung sangat tidak setuju dgn pandangan ini dan menyatakan bahwa sumber ketidaksadaran adalah warisan dari nenek moyang sehingga sifatnya sosial dan tergantung kelompok.

4.    Psikologi Humanistik
Pada akhir tahun 1940-an muncullah suatu perspektif psikologi baru. Orang-orang yang terlibat dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam perkembangan ini, misalnya ahli-ahli psikologi klinik, pekerja-pekerja sosial, dan konselor, bukan merupakan penelitian dalam proses belajar. Gerakan ini berkembang, dan kemudian dikenal sebagai psikologi humanistis, eksestransial, perceptual atau fenomenolkal. Psikologi ini berusaha untuk memahami prilaku seseorang dari sudut si pelaku (behaver), bukan dari  pengamat (obsever)
            Dalam dunia psikologi ini, humanistik merupakan salah satu aliran yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi mengemukakan secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti: self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
Adapun orientasinya psikologi humanistic tertuju pada masalah bagaimana tiap tiap individu dipengaruhi dan di bimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Menurut para pendidik aliran humanistic penyusunan dan penyajian materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.
Tokoh-Tokoh Humanistik                                                                                                                   a) Combs                                                                                                                                             Combs dan kawan-kawan menyatakan apabila kita ingin memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu. Apabila kita ingin mengubah perilaku seseorang, kita arus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan orang itu. Karena perilaku dalamlah yang membedakan seseorang dengan yang lain.  Jika kita contohkan antara guru dan siswa, apabila seorang guru mengeluh karena seorang siswanya tidak mempunyai motovasi untuk melakukan sesuatu jangan salahkan siswa tersebut, mungkin siswa tersebut tidak suka akan motivasi yang guru berikan. Jadi, dalam hal ini guru dituntut untuk memahami akan prilaku atau persepsi dari masing-masing siswa tersebut.
b) Abraham Maslow                                                                                                                           Dari pemikiran abraham maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan humanistik.
c) Rogers                                                                                                                                             Rogers berjasa besar dalam mengantarkan psikologi humanistik untuk dapat diaplikasikan dalam pendidikan. Dia mengembangkan satu filosofi pendidikan yang menekankan pentingnya pembentukan pemaknaan personal selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan melalui upaya menciptakan iklim emosional yang kondusif agar dapat membentuk pemaknaan personal tersebut. Dia memfokuskan pada hubungan emosional antara guru dengan siswa.
6. Psikologi Transpersional




7.  Psikologi Islam
A. Sejarah lahirnya psikologi islam
Diskusi mengenai gudang keilmuan muslim dalam sejarah biasanya dikaitkan dengan dua kerajaan muslim di Barat dan di Timur. Di Barat diwakili Daulah Amawiyah yang berpusat di Cordova (Spanyol), sedangkan di Timur diwakili Daulah Abbasiyah yang berpusat di Bagdad. Kedua kerajaan muslim itulah yang mengibarkan panji kemajuan ilmu- ilmu Islam dan sekaligus terlahirnya para pemikir muslim di setiap bidang keahliannya masing-masing. Pada masa itu kajian filsafat dan seluruh cabang keilmuan Islam berkembang sangat pesat.                                   Oesman Bakar memberikan suatu isyarat, bahwa dalam khasanah intelektual muslim pengkajian psikologi sudah mencakup proses hierarkhis perkembangan berbagai daya jiwa, sifat, fungsi-fungsi psikis, dan arah tujuan akhir aktifitas daya jiwa. Pengkajian ini dipelopori al-Farabi, Ibnu Sina, dan al-Ghazali. Sekalipun pengkajiannya masih bersifat filosofis, namun setidaknya usaha mereka telah menorehkan dan menelurkan benih bagi studi-studi psikologis di masa mendatang.                                                                                                                                   Selain itu penelitian A.E. Afifi menghasilkan suatu temuan, bahwa ternyata filsafat mistis Ibnu Arabi telah banyak menguraikan butir-butir kajian penting tentang kejiwaan yang kelak menjadi embrio bagi lahirnya studi-studi psikologi modern. Pada masa itu, Ibnu Arabi sudah membahas mengenai psikologi empiris, sifat-sifat dan fungsi-fungsi jiwa, dan teori mimpi yang di kemudian hari banyak diungkapkan Sigmund Frued. Pengkajian Ibnu Arabi mengenai butir-butir psikologis yang tidak terpisahkan dengan penghayatan sufistiknya itu memberikan arti penting bagi pencarian titik persinggungan antara kajian sufistik, psikologi islam.
B. Pembahasan psikologi islam
Psikologi itu ibarat hutan yang begitu bersimpangan berbagai pendapat, mulai dari persoalan filsafati, paradigma, teori, metoda. Mulai dari diagnosa, analisa hingga terapi. Ribuan alat tes terus lahir ada yang direvisi, ada yang paforit digunakan, tidak terpakai, kurang peminat, rumit dan simple. Tentunya dengan melihat begitu banyaknya kajian yang berserakan di hutan Psikologi, alngkah tidak simpatiknya menggelari psikologi sebagai ilmu tidak Islami. Psikologi adalah hutan ilmu yang terbuka untuk diambil dan dimasuki. Sehingga jika kita mau bahkan bisa menciptakan hutan psikologi sendiri yang tidak ada hubungannya dengan hutan sebelumnya.                                                                                                           Pada dasarnya, Psikologi Islam lebih mengarah pada pendekatan kajian sains dengan kajian ilmu agama; yang secara spesifiknya adalah mendekatkan kajian psikologi pada umumnya dengan kajian al-Qur`an. Dengan demikian maka dipahami bahwa landasan filsafat ilmu dari psikologi Islam adalah konsep manusia menurut al-Qur`an. Abdul Mujib mengemukakan bahwa dalam konsep manusia menurut al-Qur`an adalah konsep yang menyatakan bahwa manusia bukan hanya terstruktur dari jasmani; tapi juga ruhani. Sinergi keduanya inilah yang membentuk nafsani. Dari ketiga sistem inilah terbentuk kepribadian individu manusia.                                                                                                                           Disini akan diuraikan hubungan antara psikologi dengan tasawuf untuk membuktikan bahwa ilmu psikologi dan ilmu keislaman dapat menyatu menjadi psikologi islam.
C. Hubungan antara psikologi dan tasawuf
            Dalam ilmu tasawuf, jika manusia ingin mencapai daerajat kesempurnaan atau ma’rifat (pengetahuan ketuhanan) dimana dimensi ketuhanan (uluhiyyah) teraktualisasi secara penuh, maka manusia harus melalui proses latihan spiritual yang disebut takhalli/zero mind process (mengosongkan diri dari segala keburukan), tahalli/character building (menghiasi diri dengan perilaku baik), dan tajalli/God spot (kondisi dimana kualitas ilahiyyah teraktualisasikan atau termanifestasikan).
            Peristiwa dalam bingkai tasawuf diatas kurang lebih sama dengan konsep yang diungkap dalam psikologi. Kecenderungan untuk mencapai kesempurnaan atau aktualisasi diri, diungkapkan oleh Maslow, seorang tokoh psikologi humanistic, sebagai sebuah motivasi pertumbuhan (growth motivation) dimana manusia secara konsisten menentukan pilihan baik (progression choise), sementara kecenderungan untuk memilih pilihan buruk disebut motivasi kemunduran (deficiency motivation) dimana seseorang senantiasa menentukan pilihan mundur (regression choise) yang berarti semakin menjaukan diri dari aktualisasi diri (self actualization).
C. Pebandingan antara Psikologi Barat dengan Psikologi Islam
Setelah Psikologi Humanisme mulai menyentuh kecerdasan spiritual yang sesungguhnya mempunyai dimensi vertical, muncul gagasan Psikologi Islam. Seperti gagasan bank Islam (bank syari`ah) yang dulu dimustahilkan tetapi sekarang tumbuh menjamur, gagasan Psikologi Islam juga masih banyak ditolak oleh kalangan Western Psychology, tetapi pada akhirnya nanti Psikologi Islam juga akan diterima.
Sejarah keilmuan Islam tidak melahirkan ilmu semacam psikologi, karena berbeda dengan perkembangan ilmu pengetahuan di Barat yang bermusuhan dengan agama (Gereja), perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah keilmuan Islam disamping terinspirasi oleh kitab suci Al Qur’an, pertumbuhannya juga dilakukan oleh ulama. Al Khawarizmi (ahli matematika) al Birruni (ahli sain)/ahli kedokteran) adalah juga ulama ahli agama.
Perbedaan Psikologi Barat dengan Psikologi Islam
1. Jika Psikologi Barat merupakan produk pemikiran dan penelitian empiric, Psikologi Islam , sumber utamanya adalah wahyu Kitab Suci Al Qur’an, yakni apa kata kitab suci tentang jiwa, dengan asumsi bahwa Allah SWT sebagai pencipta manusia yang paling mengetahui anatomi kejiwaan manusia. Selanjutnya penelitian empiric membantu menafsirkan kitab suci.
2. Jika tujuan Psikologi Barat hanya tiga; menguraikan, meramalkan dan mengendalikan tingkah laku, maka Psikologi Islam menambah dua poin; yaitu membangun perilaku yang baik dan mendorong orang hingga merasa dekat dengan Allah SWT.
3. Jika konseling dalam Psikologi Barat hanya di sekitar masalah sehat dan tidak sehat secara psikologis, konseling Psikologi Islam menembus hingga bagaimana orang merasa hidupnya bermakna, benar dan merasa dekat dengan Allah SWT.
Kesimpulan
A.    Psikologi Fungsionalisme
Dapai diuraikan bahwa Psikologi fungsionalisme mengacu pada definisi suatu fenomena (institusi social, kebiasaan, keyakinan, dan sebagainya) yang menyangkut fungsi (peran dan tujuan) bersifat adaptional perilaku sesuai teori Darwin. Dimana teori ini menyatakan bahwa ketika berinteraksi dengan lingkungan, maka harus beradaptasi dan yang sukses dalam beradaptasi adalah mereka yang memiliki fungsi mental paling tinggi, dalam hal ini manusia.
     B. Psikologi Behaviorisme                                                                                                           Secara garis besar, Behaviorisme mempelajari tentang perbuatan manusia bukan dari perbuatannya, melainkan hanya mengamati tingkah laku berdasarkan pada kenyataan.segala perbuatan di kembalikan pada refleks. Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata.                                                                                                                        C. Psikologi Gestalt/ kognitivisme                                                                                                             Jadi psikologi gestalt adalah suatu aliran psikologi yg menjelaskan tetang kebaikan bentuk seperti pembandingan,penutupan,pembedaan berdasarkan figure dan sebuah upaya untuk menerapkan sebuah pendekatan .Dan teori gestalt menunjukan bagimanastruktur dari dari sebuah masalah disampaikan mempengaruhiseberapa mudah masalah itu d selsaikan,dan bahwa menstrukturulang masalah kadang-kadang memang perlu di lakukan.
D. Psikologi Psikoanalisis                                                                                                       Fitur kunci psikoanalisis dapat diuraikan bahwa semua perilaku manusia berasal dari sumber tunggal yang memiliki beberapa sebutan, misal insting seks dan isting kematian, insting-insting tersebut merupakan energy bagi semua fenomena psikologi, kondisi kehidupan nyata harus mencapai kepuasan, mempelajari tentang tahapan  alam manusia.                                                       
E. Psikologi Humanism
Jadi, orientasi psikologi humanistic tertuju pada masalah bagaimana tiap tiap individu dipengaruhi dan di bimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Menurut para pendidik aliran humanistic penyusunan dan penyajian materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.

F. Psikologi Transpersonal















G. Psikologi Islam
Pada dasarnya, Psikologi Islam lebih mengarah pada pendekatan kajian sains dengan kajian ilmu agama; yang secara spesifiknya adalah mendekatkan kajian psikologi pada umumnya dengan kajian al-Qur`an. Dengan demikian maka dipahami bahwa landasan filsafat ilmu dari psikologi Islam adalah konsep manusia menurut al-Qur`an.
Pada dasarnya, Psikologi Islam lebih mengarah pada pendekatan kajian sains dengan kajian ilmu agama; yang secara spesifiknya adalah mendekatkan kajian psikologi pada umumnya dengan kajian al-Qur`an. Dengan demikian maka dipahami bahwa landasan filsafat ilmu dari psikologi Islam adalah konsep manusia menurut al-Qur`an.























DAFTAR PUSTAKA

[1] Ikhrom, Titik Singgung antara Tasawuf, Psikolgi Agama dan Kesehatan Mental, Teologia, Volume 19, Nomor 1, Januari 2008, hal. 2
[1] tafani.wordpress.com
psikologiislam-mujib.blogspot.com
Abdul mujib.2005. Kepribadian dalam Psikologi Islam. Jakarta: Rajawali Press, hal. 82
artikelpsikologi.ssantsons.com
http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/psikoanalisis-mainmenu-57
Wasty Soemanto, 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Graham Richards.2010.Psikologi. Yogyakarta-Surabaya:BACA

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails

.

Blog Archive

Followers

Visitors

free counters