TAFSIR SURAT AL-FATIHAH

Senin, 01 Juli 2013



A.   PENGANTAR SURAT AL-FATIHAH
            Surat Al-Fatihah diturunkan sebelum nabi saw. hijrah ke Makkah; terdiri atas 7 ayat, 29 kalimat, 131 huruf. Namun ada yang mengatakan 7 ayat, 25 kalimat, 125 huruf.
            Surat Al-Fatihah dapat disebut dengan surat Pembuka dikarenakan Al-quran diawali dengan surat ini, selain itu juga disebut dengan Al-Hamdu (pujian), Ash-Sholah (pilar dalam Sholat), Al-Waqiyah (penjaga), Al-Kafiyah (yang mencukupi).[1]
            Jumhur ulama mengatakan bahwa didalam surat Al-Fatihah ini mengandung tema-tema umum mengenai kandungan Al-Qur’an, yaitu berkenaan dengan tauhid, hukum, pahala, jalan-jalan Bani Adam, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu surat ini juga disebut Ummul Kitab. Yang berarti Ummul berarti ‘induk’ adalah tempat kembalinya segala sesuatu, sedangkan  Kitab diartikan ‘Al-qur’an’.
Surat ini memiliki keistimewaan yang membedakan dengan surat-surat lainnya. Surat ini  disebut Fatihatul Kitab yang berarti surat ini menjadikannya rukun dalam sholat –yang merupakan rukun islam yang paling mulia setelah kalimat syahadat, hingga jika seseorang dalam sholat tidak membacanya maka tidak sah sholatnya.
Keistimewaan lain dari Surat Al-Fatihah adalah Al-Fatihah dapat digunakan sebagai ruqyah. Jadi jika kita membacakan surat ini pada orang yang sakit, maka ia dapat sembuh melalui izin Allah. Suatu ketika nabi membacakan surat ini pada orang yang tersengat binatang berbisa, kemudian orang itupun sembuh. Nabi saw. Bersabda:
“tahukah engkau bahwa surat ini (Al-Fatihah,-pen) adalah ruqyah”[2]
            Mengenai jumlah ayat dalam surat Al-Fatihah, Imam Al-Qurthubi rahimahullah menerangkan bahwa umat Islam telah bersepakat bahwasanya surat Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Demikian pula pendapat Al-Imam ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya[3].

B.   TAFSIR PERAYAT SURAT AL-FATIHAH
بسم الله الرحمن الر حيم
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”
بسم الله (Dengan nama Allah). Di dalam tatanan bahasa Arab kata tersebut merupakan susunan kata-kata yang berarti mendahului. “aku memulai suatu perbuatan hanya karena Allah, serta mengharap berkah serta rahmat-Nya”.
الله (Dzat yang berhak di sembah).  Karenanya di sebut dengan Ismul A’dzam, karena nama Allah menghimpun berbagai sifat. Sebagaimana dalam surat Al-A’raf ayat 108 yang artinya: “Allah mempunyai asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan asma-ul husna”. Dalam surat Al-Israa’ ayat 110 yang artinya: “serulah Allah atau serulah Ar-Rahman, dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai asma-ul husna”. Dengan demikian apabila kita membutuhkan rezeki, panggilah nama Allah; Ya Razzaq (yang memberi rezeki), atau Ya Ghani (yang Maha Kaya), dan seterusnya.
Al-Qurtubi dan ulama lainnya seperti: Syafi’i, Ghazali, dan Imamul Haramain menerangkan bahwa  الله adalah nama yang khusus bagi-Nya yang tidak dimiliki oleh selain Allah, karena kata itu merupakan kata baku bukan kata pecahan dari kata lain.
الرحمن الرحيم (yang Maha Pengasih dan Penyayang). Dua nama Allah ini merupakan nama-nama Allah yang menunjukkan Dzat dan sifat rahmat serta kepada pengaruhnya; dengan kata lain, hukum dapat menjadi konsekuensi dari sifat ini.
Rahmat yang ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya adalah rahmat hakikat yang ditunjukan oleh pendengaran dan akal. Sedangkan pendengaran adalah apa yang ada dalam Kitabullah dan Sunnah berupa penetapan rahmat bagi Allah –yang jumlahnya sangat banyak sekali. Sedang akal adalah setiap apa yang didapat berupa nikmat atau keadaan terjaga dari musibah, semua itu merupakan pengaruh dari rahmat Allah.
 الحمد لله ربّ العالمين
“segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam”
الحمد لله (Alhamdulillah). Ibnu Jarir mengatakan, bahwa makna dari الحمد لله adalah segala rasa syukur hanyalah dipersembahkan pada Allah semata, bukan kepada apa yang disembah selain-Nya juga bukan kepada semua makhluq-Nya yang tidak terhitung dan terbatas. Nikmat itu diantaranya tersedianya ada sarana dan prasarana untuk bertaqorrub kepada Allah, anggota tubuh yang lengkap dapat dengan mudah dalam melaksanakan ibadah pada-Nya.
Ibnu Abbas r.a menuturkan bahwa Umar r.a. pernah berkata, “kami telah memahami makna: Subhanallah, Laa Ilahaillallah, dan Allahu Akbar, maka apakah makna Alhamdulillah itu?”. Jawab Ali r.a., “itu merupakan kalimat yang dipilih oleh Allah untuk memuji Dzat-Nya yang Maha Agung”. 
Jabir bin Abdullah r.a. menuturkan, bahwa Rosulullah saw. Bersabda: “Zikir yang paling utama adalah Laa Illaha Illallah dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah”. (HR. Tarmidzi, hadits Hasan Gharib)
ربّ (pemilik yang memiliki sepenuhnya). Di dalam kata ربّ terdapat tiga sifat: penciptaan, kekuasaan, dan keadilan. Dia adalah Khaliq,pemilik segala sesuatu, dan pengendali segala urusan.
العالمين (alam semesta). Jumhur ulama, bahwa semua selain Allah adalah bagian dari alam. Yang dapat diartikan pencipta sekaligus yang memelihara, memperbaiki, dan menjamin (Rububiyah-Nya). Dalam surat Asy-Syua’ra ayat 23-24: “Fir’aun bertanya, apakah Robul ‘Alamin itu?. Musa menjawab, Tuhan Pencipta, Pemelihara, Penjamin langit dan bumi serta apa saja yang ada diantara keduanya jika kamu sekalian mempercayai-Nya”.
الرحمن الرحيم
“Yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang”
الرحمن الرحيم (yang Maha Pengasih). Allah memiliki sifat الرحمن pemberi nikmat yang sebesar-besarnya, sedang الرحيم yang memberi nikmat yang halus sehingga tidak terasa, padahal nikamt tersebut besar, dan semua nikmat Allah memang besar, hanya saja manusia tidak merasakan nikmat tersebut, misal nikmat pengelihatan, pendengaran, panca indra, nikmat langit, bumi, matahari, dan masih banyak nikmat yang lainnya. Jika anda menghitung nikmat yang diberikan-Nya, niscaya mereka (manusia) tidak akan dapat menghitungnya.
Jika  الرحمن الرحيم berdampingan, maka dapat ditafsirkan (الرحمن) yang Maha Pengasih adalah sifat-Nya, dan (الرحيم) yang maha Penyayang adalah perbuatan-Nya.
ملك يوم الدين
“yang menguasai Hari Pembalasan”
ملك (Raja). ملك bisa berarti raja, pemilik, yang memiliki, yang merajai, atau yang menguasai.
يوم الدين (hari pembalasan). Hari pembalasan bisa diartikan dengan hari Kiamat.  الدينdisini berarti balasan, oleh karenanya Allah adalah penguasa terhadap hari itu dan didalamnya Dia memberikan balasan kepada semua makhluk-Nya.
Terkadang kata الدين diartikan dengan ‘balasan’, namun dalam surat danayat yang lain bisa diartikan ‘amal’, sebagaimana dalam surat Al-Kafirun ayat 6 yang artinya “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”.
Ketika kedua kata ملك dan يوم الدين digabung maka akan menghasilkanfaidah yang sangat agung. Yaitu, bahwa kerajaan Allah adalah kerajaan yang hakiki. Laiknya manusia ada yang menjadi raja, tetapi ia tidak memiliki atau pemilik. Begitu pula sebaliknya manusia ada yang menjadi pemilik, namun belum tentu menjadi raja sebagaimana pada manusia umumnya. Akan tetapi, Rabb kita (Allah swt.) adalah Dzat yang menjadi pemilik sekaligus raja.
اياك نعبد و اياك نستعين
“Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan ”
اياك نعبد (Hanya Engkau-lah yang kami sembah), bisa juga berarti ‘hanya kepada-Mu kami takut dan berharap’.
اياك نستعين (hanya Engkau-lah kami mohon pertolongan), dengan kata lain manusia tidak meminta pertolongan kepda siapapun selain Engkau dalam beribadah maupun amalan lainnya.
Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa kata اياك terdapat maf’ul bihi (obyek) yang didahulukan, dikarenakan adanya kata نعبد, yang berarti sebagai unsur keterangan pembatasan. Maka, artinya: “kami tidak menyembah selain pada Engkau”. Sedang kata نعبد diartikan “kami menghinakan diri untuk-Mu dengan sebenar-benarnya”.
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan: kata اياك sengaja didahulukan karena sebagai maf’ul bihi (obyek), hal ini diulang untuk menunjukan makna perhatian dan pembatasan, sehingga diartikan: “kami tidak menyembah hanya kepada-Mu, tidak berserah diri kecuali kepada-Mu”.
Qatadah mengatakan, dalam ayat اياك نعبد و اياك نستعين memaknai dengan: “Allah memerintahkan kepada kalian untuk ikhlas dalam beribadah hanya kepada Allah dan benar-benar memohon pertolongan pada-Nya dalam semua urusan kalian”.
Ayat اياك نعبد و اياك نستعين menjelaskan mengenai ibadahnya seorang hamba pada Allah yang mencakup semua amal yang diperintahkan Allah pada diri-Nya dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya. Ibadah juga bisa diartikan sebagai perasaan rendah diri, mengabdi, hamba yang tunduk dan patuh. Sedang menurut istilah syara’, ibadah ialah suatu sikap yang menghimpun rasa kecintaan, ketundukan, serta rasa takut pada-Nya.
اهدنا الصّراط الّمسْتقيم
“tunjukanlah kami jalan yang lurus”
الصّراط memiliki dua cara baca, pertama menggunakan sin (السّراط) dan shad (الصّراط). Kata الصّراط berarti ‘jalan’, sedangkan kata اهدنا berarti 'tunjukkanlah', bisa diartikan juga dengan hidayah. Yang dimaksud hidayah adalah hidayah bimbingan dan hidayah taufiq, maka ketika anda membaca اهدنا الصّراط الّمسْتقيم ‘tunjukilah kami jalan yang lurus’ secara tidak langsung anda meminta ilmu yang bermanfaat dan amal shalih kepada Allah. Sedang kata الّمسْتقيم berarti 'yang lurus', juga diartikan dengan tidak ada kebengkokan padanya.
  الصّراط الّمسْتقيم(jalan yang lurus). Bisa diartikan juga dengan tuntunan Allah dan Rosulullah saw. Atau bisa juga berarti Kitab Allah. Sebagaimana riwayat ali r.a. yang mengatakan bahwa Rosulullah saw. Bersabda:
الصّرا المستقيم كتا ب الله
“shiratallmustaqim adalah kitabullah”
juga bisa berarti Islam, sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya.
صراط الذين انعمت عليهمْ غير المغْضُوْب عليهم ولا الضا لين
“yaitu jalan orang-orang yang engkau beri nikmat, bukan( jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”[4]
Ibnu Abbas mengatakan, makna dari “yaitu jalan orang-orang yang telah engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” ialah: jalan orang yang telah diberi kenikmatan berupa ketaatan beribadah kepada Allah, seperti para malaikat, para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan shalihin. (QS An-Nisa: 69-70).“bukan (jalan)mereka yang dimurkai” yaitu mereka yang telah mengetahui kebenaran tetapi tidak melaksanakannya, mereka seperti orang-orang yahudi yang telah mengetahui kitab Allah, tetapi tidak melaksanakannya. “dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” yaitu mereka yang tidak memiliki ilmu (agama), sehingga mereka terjerumus ke dalam kesesatan.
Addi bin Hatim r.a. bertanya pada Rosulullah saw., siapakah yang dimurkai Allah ya Nabi? Jawab Nabi saw., “mereka adalah orang-orang Yahudi.” Addi bin Hatim bertanya lagi, dan siapakah orang yang sesat itu?, Nabi menjawab “mereka adalah orang-orang Nasrani”.
C.   PENUTUP SURAT
Surat Al-Fatihah adalah surat yang sarat akan makna dan penjelasan terhadap surat sesudahnya, di dalam surat ini mengandung pengertian tersirat maupun tersurat mengenai berbagai hukum-hukum Allah berupa Aqidah (tauhid), hukum, pahala, jalan-jalan Bani Adam, serta didalamnya mengandung semua isi Al-Qur’an.
Ketika kita membacanya sampai pada akhir ayat, disunnahkan untuk mengucapkan “amiin”. Yang berarti “Ya Allah kabulkanlah”. Abu Hurairah r.a. mengatakan, bahwa Nabi saw. bersabda “jika imam membaca ‘Amiin’, maka sambutlah (bacalah) Amiin, karena sesungguhnya barangsiapa yang bacaan Amiin-nya bersamaan dengan Amiin-nya malaikat, maka dia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Surat al-Fatihah  yang terdiri dari tujuh ayat ini mengandung pujian dan syukur pada Allah dengan menyebut nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Didalamnya (al-Fatihah) juga menyinggung mengenai hari pembalasan dan tuntutan, mengenai manusia yang jika meminta sesuatu kepada Allah supaya merendahkan diri serendah-rendahnya. Kemudian didalamnya juga menganjurkan pada manusia untuk selalu meminta hidayah dan bimbingan Allah agar bisa menapaki jalan yang lurus, sehingga termasuk golongan yang mendapat nikmat dan pertolongan-Nya.




[1] Lihat tafsir al-Qur’anal-‘Azhim [1/100] cet. Dar Thaibah
[2] Ditakhrij Al-Bukhari, kitab Al-Ijarah, No: 2276; dan Muslim, kitab As-Salam, No:2201
[3] Lihat al-jami’ li Ahkam al-qur’an al-‘azhim [1/101]
[4] Mereka yang dimurkai, adalah mereka yang sengaja menentang ajaran Islam. Mereka yang sesat adalah mereka yang sengaja mengambil jalan selain islam. 

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails

.

Blog Archive

Followers

Visitors

free counters