Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

ANALISIS MATERI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM UNTUK MADRASAH IBTIDAIYYAH KELAS III

Senin, 01 Juli 2013

 
Oleh: Marsudi Iman A. 

A. Pendahuluan 
Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam merupakan salah satu bagian integral dari Pendidikan Agama Islam. Sehubungan dengan itu, materi Sejarah Kebudayaan Islam memiliki peran yang sangat mendukung dalam pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam. Materi Sejarah Kebudayaan Islam ini hanya diberikan di sekolah-sekolah yang berbasis keislaman seperti Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah ‘Aliyah (MA) serta sekolah-sekolah bercirikan Islam seperti Sekolah Dasar Islam (SDI), Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) dan Sekolah Menengah Atas Islam (SMAI). Di tingkat madrasah ibtidaiyyah, mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam diberikan sejak kelas III sampai kelas VI. Mata pelajaran ini disajikan oleh guru di antaranya dengan mengacu pada buku ajar yang berjudul Sejarah Kebudayaan Islam untuk MI, dari kelas III sampai kelas VI. Buku ini ditulis oleh Muh Asnawi dan diterbitkan oleh Penerbit Aneka Ilmu Semarang. Buku ini ditulis menyesuaikan standar isi Kurikulum mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam tahun 2008. Agar dapat mengajarkan materi Sejarah Kebudayaan Islam dengan baik, maka guru dituntut untuk mampu menganalisis materi yang disajikan dalam buku tersebut. Hasil analisis, berupa kelebihan-kelebihan buku akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mencapai efektifitas pembelajaran.Adapun kekurangan-kekurangannya dapat dieliminir dengan cara memperkaya materi Sejarah Kebudayaan Islam dari sumber-sumber lain. Dalam makalah ini akan diuraikan analisis terhadap materi buku Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Ibtidaiyyah kelas III. 

B. Profil dan Isi Buku 
Buku yang akan dianalisis dalam makalah ini berjudul Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Ibtidaiyyah kelas III. Buku ini ditulis oleh Muh. Asnawi dan diterbitkan oleh Penerbit Aneka Ilmu Semarang. Di sampul depan yang berwarna hijau-biru-kuning terdapat ilustrasi gambar berupa orang-orang Arab sedang mengendarai kuda dan onta. Orang-orang tersebut mengenakan sorban dan berjubah. Di pinggang sebelah kirinya tergantung sebilah pedang melengkung. Buku yang ditulis dengan mengacu pada Kurikulum tahun 2008 dimulai dengan prakata, kisi-kisi buku, Pedoman Transliterasi Arab-Latin berdasarkan SKB Menag dan Mendikbud No. 158 tahun 1987 dan No. 0543 b/U/1987, Daftar Isi dan masuk ke materi pelajaran 1 sampai pelajaran 4. Pelajaran 1 dan 2 disampaikan di semester I, sedangkan pelajaran 3 dan 4 disampaikan di semester II. Pada setiap akhir semester disediakan soal-soal latihan. Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi gambar yang relevan pada setiap sub bahasannya. Isi buku diakhiri dengan daftar pustaka. Adapun sampul belakang dimanfaatkan untuk memberi keterangan singkat tentang manfaat mempelajari sejarah. Adapun daftar isi buku ini adalah sebagai berikut: Semester Pelajaran ke Tema I 1 Sejarah Masyarakat Arab Pra Islam A. Kondisi Masyarakat Arab pra-Islam B. Adab dan Kepercayaan Masyarakat Arab pra-Islam 2 Iktibar Sejarah Masyarakat Arab Pra Islam A. Perilaku Buruk Masyarakat Arab pra Islam B. Sejarah buruk Raja Abrahah harus dihindari C. Masa Remaja Nabi Muhammad SAW D. Ibrah dari Kenabian dan Kerasulan Muhammad SAW II 3 Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW A. Kelahiran Nabi Muhammad SAW B. Silsilah Nabi Muhammad SAW C. Ibrah Kenabian dan Kerasulan Nabi Muhammad SAW 4 Peristiwa Kerasulan Nabi Muhammad SAW A. Nabi Muhammad Diutus sebagai Nabi Terakhir B. Ibrah Kerasulan Nabi Muhammad SAW 

C. Analisis Materi 
Analisis materi yang akan penulis lakukan meliputi berbagai segi. Di antaranya: segi bahasa dan tulisannya, segi kesesuaian materi dengan standar kompetensi yang ingin dicapai, kronologi atau sistematika materi dan evaluasi belajarnya. 1. Analisa Bahasa. Penulis menemukan banyak kesalahan bahasa yang digunakan dalam kalimat-kalimat buku ini. Kesalahan penggunaan kata depan yang sering rancu dengan awalan terdapat di sana sini. Sebagai contoh di halaman 8 alinea kedua tertulis: Disamping itu mereka suka berjudi, minum-minuman keras, berkelahi dan berfoya-foya. Ada pula kebiasaan diluar peri kemanusiaan yaitu mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup. Perbuatan ini dilakukan bersama-sama (Halaman 8, alinea ke 2) Kata Disamping dan diluar di alinea tersebut seharusnya ditulis secara terpisah karena merupakan kata depan. “Di” yang diikuti kata kerja adalah awalan, sedangkan jika diikuti kata yang menunjukkan tempat adalah akhiran (Heri Atmaja, 2007: 46). Pada beberapa bagian yang lain terjadi sebaliknya, yaitu awalan ditulis sebagaimana kata depan (dipisah). Sebagai contoh: Muhammad tumbuh sebagai seorang pemuda yang berbudi pekerti luhur. Ia adalah seorang yang kehormatannya paling di akui. Nasab dan silsilahnya terhitung paling mulia. Ia adalah tetangga yang paling baik, paling dapat di percaya tutur katanya dan paling teguh memegang amanat. (Halaman 28, alinea ke 3) Bentuk kesalahan bahasa lainnya adalah peletakan kata ganti yang tidak tepat. Kesalahan seperti ini tampak pada contoh berikut: Wilayahnya Arab berupa padang pasir yang panas dan gunung-gunung batu. Tingkat curah hujan sedikit dan sumber air pun sangat terbatas. Penduduk bertempat tinggal di desa-desa pada umumnya berasal dari suku bangsa Baduwi. Ini merupakan golongan penduduk terbesar. Mata pencahariannya bercocok tanam dan beternak (Halaman 6, alinea pertama) Kata ganti “nya” di atas mengacu pada kata “Arab” yang disebutkan sesudahnya. Struktur kalimat ini sangat dipengaruhi dengan struktur Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari penulisnya. Seharusnya kata “nya” tidak perlu ditulis ketika kata benda yang diganti telah disebutkan setelahnya. Dalam kutipan kalimat di atas terdapat juga ketidaktepatan kalimat “Penduduk bertempat tinggal di desa-desa pada umumnya berasal dari suku bangsa Baduwi”. Seharusnya setelah kata “penduduk” diikuti kata “yang” sehingga kalimat tersebut menjadi “Penduduk yang bertempat tinggal di desa-desa pada umumnya berasal dari suku bangsa Baduwi” Kesalahan model “yang diterangkan” tidak singkron dengan “yang menerangkan” juga penulis temukan. Contoh kesalahan model ini adalah: Bangsa Arab merupakan Negara yang bentuk pemerintahannya dikepalai oleh seorang raja. Terletak di Semenanjung Arabia. Hidupnya bersuku-suku, sedangkan suku terbesar adalah suku Quraisy (Halaman 13, nomor 1) Frasa “Bangsa Arab” sebagai yang diterangkan, tidak singkron dengan “Negara” sebagai yang menerangkan. 2. Analisa Tulisan Kualitas tulisan buku Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Ibtidaiyyah kelas III ini cukup baik. Baik tulisan latin maupun arab sangat jelas dan mudah dibaca. Untuk tulisan latin menggunakan font Times New Roman dengan ukuran 14. Sedangkan jenis huruf Arab yang digunakan adalah Traditional Arabic ukuran 20. Meskipun secara umum tulisan sudah bagus, namun masih banyak juga tulisan yang salah. Kesalahan tulis yang paling banyak penulis temukan adalah penulisan istilah Arab dengan huruf latin. Penulisan beberapa istilah yang ada tidak sesuai dengan Pedoman Transliterasi Arab-Indonesia sebagaimana terdapat di awal buku. Kata iktibar (Halaman 23) yang berarti mengambil pelajaran semestinya ditulis i’tibar. Kata ibrah (Halaman 70) seharusnya ditulis ‘ibrah. Kata mukjizat (Halaman 71) seharusnya ditulis mu’jizat. Kakbah (Halaman 54) semestinya diketik ka’bah. Pedoman transliterasi Arab-Latin dilampirkan sekedar untuk formalitas dan tidak dipakai dalam buku ini tampak pada tidak digunakannya vocal panjang untuk a, i dan u. 3. Analisa Urutan Materi Setelah penulis mencermati secara seksama terhadap urutan penyajian materi buku Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Ibtidaiyyah kelas III, maka penulis menemukan bahwa terdapat kronologi materi penyajian yang tidak urut. Hal ini tampak pada pelajaran 2 dengan tema I’tibar Sejarah Masyarakat Arab Pra Islam (Halaman 23). Pelajaran ini mengandung pokok bahasan sebagai berikut: a. Perilaku Buruk Masyarakat Arab pra Islam b. Sejarah buruk Raja Abrahah harus dihindari c. Masa Remaja Nabi Muhammad SAW d. Ibrah dari Kenabian dan Kerasulan Muhammad SAW Menurut pendapat penulis, pokok bahasan tentang masa remaja Nabi Muhammad SAW (Halaman 25) dan Ibrah dari Kenabian dan Kerasulan Muhammad SAW (Halaman 53) tidak tepat dibahas pada pelajaran ke 2 yang berbicara tentang sejarah masyarakat Arab Pra Islam. Pokok bahasan tentang “Masa remaja Nabi Muhammad SAW” lebih tepat diuraikan pada pelajaran ke 3 (Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW) dan “Ibrah dari Kenabian dan Kerasulan Muhammad SAW” lebih tepat jika dibahas pada pelajaran 4 (Peristiwa Kerasulan Nabi Muhammad SAW) 4. Analisa Kesesuaian Materi dengan Standar Kompetensi Materi yang terdapat dalam pelajaran pertama (Sejarah Masyarakat Arab Pra-Islam) telah sesuai dan sinkron dengan standar kompetensi (Mengenal sejarah masyarakat Arab pra-Islam) dan kompetensi dasar yang ingin dicapai (Menceritakan kondisi alam, social dan perekonomian masyarakat Arab pra-Islam serta menjelaskan keadaan adat istiadat dan kepercayaan masyarakat Arab pra Islam. Demikian juga untuk materi-materi pada pelajaran ketiga dan keempat. Ketidaksesuaian materi dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai tampak dalam pelajaran 2 (halaman 23-37). Standar kompetensi pelajaran ini adalah “Kemampuan mengenal, mengidentifikasi sejarah masyarakat Arab pra-Islam”. Adapun Kompetensi Dasarnya adalah “Mengambil i’tibar dari sejarah masyarakat Arab pra Islam”. Ketidaksesuaian tampak dengan disajikannya pokok bahasan tentang “Masa remaja Nabi Muhammad SAW” (Halaman 25-29) dan “Ibrah dari kenabian dan kerasulan Muhammad SAW” (Halaman 29-36) 5. Analisa terhadap Evaluasi Belajarnya. Instrumen evaluasi belajar yang digunakan dalam buku ini sudah cukup bagus dan memadahi. Menurut Anas Sudiyono (2001) instrument evaluasi yang baik antara lain bersifat representative, obyektif, variatif dan valid. Dari aspek representatifnya hamper semua soal evaluasi belajar yang ada di buku ini bisa penulis katakan sudah representative karena penguasaan atas semua materi di setiap pelajaran sudah diukur dengan soal-soal tes yang disediakan. Dari sisi obyektifitasnya, menurut pendapat penulis juga sudah obyektif. Seluruh soal tes yang dikemukakan bersifat obyektif dalam arti mengukur penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan bukan pada materi yang tidak diajarkan. Obyektifitas evaluasi belajar akan lebih meningkat jika dalam memberikan skor atau penilaian guru bersifat obyektif (apa adanya) tanpa dipengaruhi sikap-sikap sentiment, preseden masa lalu dan sikap-sikap subyektif lainnya. Sementara dari segi variatifnya, evaluasi belajar yang terdapat dalam buku ini sudah sangat memadahi. Jenis-jenis soal tes yang digunakan dalam setiap pelajaran sudah bersifat variatif, meliputi essay test dan obyektif test. Soal essay dalam buku ini juga dibuat variatif. Ada yang berupa pertanyaan langsung seperti “Apa saja adat istiadat bangsa Arab pra Islam?” tetapi ada pula model essay yang tidak langsung seperti yang terdapat dalam model soal essay “Pernyataan Sikap” yang terdapat di halaman 15. Soal Essay “Pernayataan Sikap” ini merupakan soal tes yang bagus untuk mengukur penguasaan ranah afektif siswa terhadap materi pelajaran yang disajikan. Lebih lengkapnya soal tersebut adalah sebagai berikut: “Isilah kolom berikut ini dengan kebiasaan buruk masyarakat pra-Islam dan cara-cara untuk menghindari sifat-sifat buruk tersebut ! Kemudian praktekkan dalam kehidupan sehari-hari! (Halaman 15) Bentuk soal essay yang penulis anggap bagus dalam buku ini adalah soal test essay berupa menceritakan kembali beberapa kisah seperti kisah hancurnya pasukan Raja Abrahah dengan bahasa siswa. Soal model ini dimaksudkan untuk mengukur pemahaman siswa (ranah kognitif) sampai pada derajat atau level synthesis (Lihat Taksonomi Bloom dalam Suharsimi Arikunto, 2003) Untuk jenis soal tes obyektif yang ada di buku ini, juga sudah cukup bagus. Bentuk-bentuknya meliputi multiple choice item (pilihan ganda) dengan alternative jawaban a, b, c dan d, bentuk completion (melengkapi) standar dan completion yang dimodifikasi menjadi soal teka-teki silang. Soal teka-teki silang menurut penulis merupakan soal yang menarik dari segi variatif soal tes untuk mengukur hasil belajar siswa meskipun hanya mampu mengukur penguasaan siswa sampai ranah kognitif saja. Dengan mengisi teka-teki silang, siswa tidak terbebani sebagaimana jika ia mengerjakan soal-soal dengan bentuk lain. D. Kesimpulan Dari uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Ibtidaiyyah kelas III: 1. Terdapat banyak kesalahan bahasa dan tulisan. 2. Ditemukan kronologi pemaparan materi yang tidak urut. 3. Terdapat beberapa materi yang tidak sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. 4. Instrumen evaluasinya sudah cukup memadahi dilihat dari segi obyektifitas, validitas dan variasi bentuk-bentuknya. 


DAFTAR PUSTAKA 

Asnawi, Muh, Sejarah Kebudayaan Isam Untuk MI Kelas III, Semarang: Aneka Ilmu, 2008 Arikunto, Suharsimi, Evaluasi Belajar, Jakarta: Pustaka Progresif, 2003 Atmaja, Heri, Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar Kelas V, Solo: Tiga Serangkai, 2007 Sudijono, Anas, Pengantar Evaluasi Belajar, Bandung: Rajawali Press, 2001 Usman, Moh.Uzer, Menjadi Guru Profesional, jakarta: Pustaka Grafindo, 1999

PENGARUH KEMAJUAN TEKNOLOGI TERHADAP METODE PENGAJARAN DALAM KELAS

Minggu, 16 Juni 2013


BAB I PENDAHULUAN
 Latar Belakang Masalah Di era globalisasi ini menuntut kepada tiap-tiap individu untuk bisa mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern ini. Salah satu kemajuan yang diakibatkan dari modernisasi ialah kemajuan dalam bidang teknologi atau yang sering disebut perkembangan IT. Kemajuan teknologi harus bisa diikuti oleh setiap insan supaya mereka tidak tertinggal oleh kemajuan zaman yang makin hari semakin menuju kemajuan. Perubahan tersebut mempengaruhi berbagai bidang, mulai lingkungan hukum, lingkungan politik, sosial, budaya, ekonomi semuanya terpengaruhi oleh adanya kemajuan teknologi. Hal tersebut membuat dunia pendidikan memikirkan kembali bagaimana perubahan tersebut mempengaruhinya sebagai sebuah institusi sosial dan bagaimana harus berinteraksi dengan perubahan tersebut. Salah satu perubahan lingkungan yang sangat mempengaruhi dunia pendidikan adalah hadirnya teknologi informasi (TI). Kemajuan teknologi merupakan salah satu elemen penting dalam pelbagai aktivitas manusia. Hampir tiap aktivitas manusia dalam berbagai sektor dapat dipastikan menggunakan “jasa” dari IT tersebut, mulai dari sektor perindustrian, perkantoran, transportasi, kesehatan, pendidikan, dan sektor lainnya membutuhkan andil yang besar dari keberadaan perkembangan IT itu. Berangkat dari hal itu sangatlah penting adanya peningkatan sember daya manusia sehingga SDM tersebut dapat memperlakukan IT tersebut dengan tepat guna dan hasil guna. Dengan adanya kemajuan teknologi tersebut maka dunia pendidikan mau tidak mau harus ikut ambil bagian dalam “mengarungi” kemajuan teknologi, agar dunia pendidikan di Indonesia tidak mengalami ketertinggalan terhadap pendidikan-pendidikan di negara yang lain. Di dalam dunia kependidikan telah dikenal dengan teknologi kependidikan. Teknologi pendidikan merupakan integrasi antara kemajuan teknologi dengan pendidikan khususnya di Indonesia. Atau biasa di istilahkan oleh orang awam sebagai penggunaan teknologi di dalam proses belajar mengajar. Rumusan Masalah Dalam keterlangsungan proses belajar-mengajar yang efektif dan merealisasikan pembelajaran yang berasaskan PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) diperlukan adanya “partisipasi” dari kemajuan teknologi. Penggunaannya dapat berupa membantu guru dalam menyampaikan materi/ bahan ajar pada murid, membantu para murid dalam menambah wawasan ilmu pengetahuan sesuai materi yang diajarkan, serta manfaat lainnya. Dengan demikian sangat diperlukannya pendidikan yang berbasis IT agar dapat membantu kinerja guru dalam meningkatkan kualitas para muridnya supaya mereka memiliki daya saing di berbagai bidang. Tujuan Penelitian Makalah ini bertujuan untuk mengetahui peranan perkembangan teknologi informasi dalam kegiatan pembelajaran dan perkembangan dunia pendidikan, serta pengaruh teknologi informasi dalam menghasilkan output peserta didik yang bermutu dan modern. BAB II LANDASAN TEORI A. TEKNOLOGI A.1 Pengertian Teknologi Istilah teknologi oleh orang awam sering diasumsikan sebagai peralatan mesin atau yang berkaitan dengan permesinan, namun pada dasarnya arti dari teknologi tersebut lebih luas. Kata teknologi berasal dari bahasa Yunani “technologia” yang menurut Webster Dictionary berarti “systemic treatment” atau penang anan sesuatu secara sistematis, sedagkan “techne” sebagai dasar kata teknologi yang memiliki arti “art, skill, science” atau “keahlian, keterampilan, ilmu” . Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) teknologi diartikan sebagai “kemampuan teknis yang berlandaskan ilmu eksakta dan berdasarkan proses teknis”. Atau teknologi bisa juga dikatakan sebagai ilmu tentang cara menerapkan sains untuk bisa memanfaatkan potensi yang berada di alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia. A.2 Kemajuan Teknologi Teknologi di dunia ini merupakan sebuah realitas keseharian, sebutkan saja hampir semua kegiatan yang kita lakukan berkaitan erat dengan yang namanya teknologi. Memang teknologi merupakan suatu keniscayaan yang harus dihadapi manusia di era mellenium ini. Ada yang berpendapat bahwa kebutuhan akan teknologi (televisi, laptop) merupakan sebagai kebutuhan primer, bukan lagi sebagai kebutuhan sekunder. Misal kebutuhan manusia akan teknologi informasi. Kemajuan teknologi merupakan sesuatu yang pasti, seiring perkembangan zaman teknologi-teknologi tersebut akan berevolusi sesuai dengan kebutuhan manusia akan hal tersebut. Perkembangannya sangatlah pesat sekali, bahkan dalam hitungan detik manusia dapat menciptakan suatu hal baru yang digunakan untuk kemaslahatan kehidupan manusia. Dengan adanya hal tersebut jarak antar negara tidak lagi mempengaruhi interaksi antar individu, antar kelompok, antar negara saling bergantung dan berkaitan untuk saling bertukar informasi atau kepentingan mereka tanpa mendapat hambatan jarak yang begitu jauh. Misalnya kita yang berada di Indonesia bisa dapat langsung mengakses informasi melalui internet apa yang sedang terjadi di Timur Tengah. Hampir tiap elemen masyarakat telah mengenalnya, baik itu masyarakat kelas menegah ke atas maupun masyarakat menegah ke bawah, baik itu yang berada di jantung perkotaan hingga yang berada di pelosok desa-desa. Namun pengetahuan akan teknologi antar keduanya sangatlah berbeda, rakyat perkotaan lebih mengenal dan lebih sering berinteraksi dengan yang namanya teknologi. Contoh sedikit yang berkaitan dengan pengajaran dalam kelas ialah penggunaan media pembelajaran yang berbasis IT, contohnya proyektor (LCD), penyediaan laptop per-individu, internet dengan jaringan LAN atau hotspot, pemberian pendingin di ruang kelas, dan lain sebagainya. Berbeda dengan rakyat pelosok pedesaan yang mengenal kemajuan teknologi hanya sebatas pengetahuan saja, mungkin teknologi yang sudah masuk ke pelosok desa biasanya radio dan televisi parabola. Sedang dalam proses belajar mengajar biasanya sekolah pedesaan masih menggunakan sistem klasik (sistem konvensional). Itulah sedikit gambaran mengenai perkembangan teknologi di Indonesia yang masih banyak kesenjangan dan kurangnya pemerataan yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal tersebut. Adanya perkembangan teknologi utamanya dunia maya dapat memberikan dampak positif dan negatif terhadap kehidupan masyarakat. Terutama para kalangan terpelajar yang selalu ingin mencoba hal-hal baru. Dengan adanya media internet, seharusnya mereka dapat menggunakan internet sebagai alat untuk menambah wawasan dan pengetahuannya supaya dapat mengambil manfaat serta dapat merangsang interaksi, jiwa eksperimen, dan memotivasi diri untuk berperstasi. Namun realita sekarang banyak anak muda yang menyelewengkan dalam penggunakan media tersebut. Banyak diantara mereka yang menggunakan media internet tersebut untuk mengakses budaya Barat yang begitu vulgar dan tak ada batasan dalam kebabasan sehingga konten-konten yang berbau pornografi dapat dengan mudah mereka akses. Begitu juga dengan adanya televisi, peran televisi yang dulunya menjadi sumber informasi, sumber ilmu pengetahuan, update berita terbaru sekarang berubah fungsinya, hampir keseluruhan acara dalam televisi hanya sedikit yang dapat di ambil manfaatnya itupun terkadang masih diselingi hal-hal negatif. Sekarang banyak acara televisi yang mengarah pada percintaan, perkelahian, konser-konser, acara selebritas yang hanya mengumbar glamour dan kehidupan mereka pribadi serta acara yang lainnya yang masih banyak madharatnya ketimbang manfaatnya. Itu semua juga dipengaruhi budaya Barat yang hanya mengedepankan kebebasan dalam berbagai hal. Budaya Barat memang sudah menghegemoni kehidupan manusia di seluruh dunia. Budaya mereka yang cenderung mengedepankan kebebasan tersebut dapat dengan mudah merusak budaya Indonesia. Nilai-nilai budaya lokal yang sudah tertanam dari nenek moyang (budaya yang positif) kita justru akan tergerus oleh globalisasi yang hanya akan membuat budaya kita menjadi kenangan oleh anak cucu kita kelak. Negara ini seharusnya bisa mencontoh kemajuan dalam berbagai bidang yang telah dicapai oleh negara Jepang. Negara tersebut dapat memadukan antara kemajuan teknologinya serta mereka tidak meninggalkan sedikitpun budaya-budaya yang di turunkan oleh nenek moyang mereka. sekali lagi, kemajuan mereka (Jepang) dapat mengkolaborasikan antara kultur dan budaya mereka dengan kemajuan teknologi yang mereka capai tanpa meninggalkan budaya leluhur mereka sehingga di mata Dunia negara tersebut menjadi salah satu negara maju yang disegani oleh negara-negara lainnya. Itulah sekelumit pemaparan mengenai kemajuan teknologi di era melenium ini, era yang mengharuskan manusia untuk berinteraksi dengan teknologi dikarenakan dengan adanya interaksi tersebut manusia dapat mengetahui dan mengikuti perkembangan dunia baik melalui media televisi, internet, dan melalui media lainnya. Namun dengan adanya perkembangan tersebut seharusnya diikuti dengan pengertian yang berkaitan dengan dampak-dampak positif dan negatif sehingga dapat memilah mana yang dapat di ambil manfaatnya dan mana yang harus dijauhi. A.3 Teknologi Sebagai kegiatan Manusia Teknologi merupakan salah satu alat bantu manusia dalam beraktivitas dan bekerja sehingga para penggunanya dapat melakukan segala aktivitas dengan se-efektif dan se-efesien mungkin. Kegiatan manusia termasuk salah satu pengertian dalam teknologi yang dapat di sudutkan menjadi dua pokok, yaitu membuat dan menggunakan. Membuat adalah suatu kegiatan merancang dan menciptakan suatu barang buatan sesuai dengan fungsi barang yang di buat. Sebagai contoh orang zaman dahulu ketika membuat kapal mereka akan membuat terlebih dahulu kapak, palu, gergaji, alat pengukur, dan alat lainnya sebelum proses pembuatan perahu, ketika alat-alat tersebut sudah jadi dan lengkap maka barulah memulai pembuatan perahu. Dalam pembuatannya dapat terlihat dua proses yang berkesinambungan yaitu proses membuat dan proses menggunakan. Begitu juga zaman modern sekarang, ketika pabrik-pabrik akan memproduksi sesuatu mereka akan membuat mesin-mesin terlebih dahulu, lalu mereka akan memproduksi sesuatu yang telah mereka rencanakan. Dengan jelas bahwa yang dimaksud teknologi sebagai kegiatan manusia adalah setiap kegiatan dan aktivitas yang menopang kinerja manusia dalam memperoleh hasil yang telah direncanakan sebelumnya. Namun tidak semua aktifitas yang dilakukan manusia dalam kesehariannya membutuhkan bantuan perlatan teknologi. B. TEKNOLOGI PENDIDIKAN B.1 Antara Teknologi dan Pendidikan Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat korelasi antara penggunaan alat bantu (media elektronik) baik berupa hardware maupun software dapat membantu aktivitas pembelajaran dalam kelas. Utamanya bagi para siswa yang akan termotivasi ketika mengikuti pembelajaran yang menggunakan media tersebut serta dapat mempengaruhi prestasi belajarnya dengan adanya hal tersebut. Perkembangan teknologi juga harus bisa dimanfaatkan oleh para guru/dosen keitka mengajar yang ingin mengurangi beban dalam mengajar seminimal mungkin. Karena pada umumnya para guru mengunakan metode mengajar konvensional (metode ceramah) sehingga para murid akan merasa bosan dan jenuh dengan metode tersebut. Berangkat dari hal tersebut hendaknya para guru harus membekali diri mereka dengan kemampuan yang berbasisi IT supaya dapat mengimbangi perkembangan zaman dan dapat mengaplikasikannya di dalam metode pembelajaran. Realita yang lain yaitu banyaknya peserta didik yang mahir dalam mengoperasikan komputer serta surfing di dunia maya daripada para guru yang dapat dikatakan “gaptek” karena kurangnya mengotak-atik komputer. Hal inilah yang menjadi permasalahan para guru sekarang, mereka kurang atau belum mendapatkan pembelajaran berkaitan dengan teknologi pada masa mereka merengkuh bangku sekolah. Ini merupakan salah satu tugas pemerintah untuk mengatasi problem tersebut, salah satu caranya dengan memberikan sosialisasi pada guru akan pentingnya pendidikan yang berbasis IT sehingga para guru tersebut dapat mengaplikasikannya dalam pembelajaran dan “tidak kalah” dengan muridnya (dalam perkembangan teknologi). B.2 Teknologi Pendidikan Bisa diasumsikan dengan keberadaan teknologi dapat membantu kinerja pendidik di dalam proses pembelajaran sehingga muncul suatu pembahasan dalam dunia kependidikan yang dinamakan teknologi pendidikan. Tekonologi pendidikan sering mengandung konotasi penggunaan peralatan atau mesin-mesin yang rumit sebagai ciri utamanya. Konotasi tersebut tidak selamanya benar, (Sudarwan Danim, 1995) merumuskan bahwa teknologi pendidikan merupakan suatu pendekatan kritis, logis, sistematis dan ilmiah terhadap pendidikan. Dalam teknologi pendidikan bukan hanya semata-mata mementingkan alat teknologi khususnya teknologi komunikasi, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah proses yang logis, sistematis, dan ilmiah dalam penggunaannya. Istilah yang digunakan dalam bahasa Inggris ialah “instructional technology” atau “educational technology”. Dalam pendapat yang lain (Commision on Instructional Technology, 1997) mendefinisikan sebagai “instructional technology means the media born of the communications revolutions which can be used for instructional purpose along side the teacher, the book, and the blackboard” , atau teknologi pendidikan merupakan media yang berkembang dengan adanya revolusi telekomunikasi yang dapat digunakan sebagai pendamping mengajar para guru, buku-buku, dan papan tulis. Senada dengan itu, teknologi pendidikan bisa dipahami sebagai sesuatu proses yang kompleks, dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan untuk mengatasi permasalahan, melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah tersebut yang mencakup semua aspek belajar manusia. (AECT, 1977). Secara umum teknologi pendidikan dapat diartikan sebagai media yang lahir dari revolusi teknologi komunikasi yang secara tepat dapat digunakan untuk tujuan-tujuan pengajaran disamping peran dari guru, papan tulis dan buku ajar. Pendapat tersebut mengandung asumsi bahwa tidak selamanya keberadaan teknologi dalam dunia kependidikan dapat mengalihkan kinerja seorang guru dan peran buku ajar. Sebisa mungkin para pendidik menggabungkan antara kemajuan teknologi dengan sistem pengajaran di dalam kelas. Dari hal tersebut maka teknologi pendidikan memiliki ciri-ciri sebagai indikator telah terlaksananya suatu pembelajaran : Merumuskan tujuan dengan teliti dan spesifik dalam bentuk kelakuan yang dapat diamati, sehingga dapat diukur keberhasilan terapanya tujuan itu. Meneliti pengetahuan keterampilan dan sikap yang telah di miliki tiap anak didik sebagai dasar pelajaran baru sehingga diketahui kemajuan dari proses belajar-mengajar. Menganalisisi bahan pelajaran yang akan disajikan dalam bagian-bagian yang dapat dipelajari dengan mudah. Berdasarkan analisis bahan pelajaran menentukan: Urutan mempelajari bahan agar tercapai hasil belajar yang optimal Starategi belajar yang tepat dalam menyampaikan bahan tersebut. Mengujicobakan bahan tersebut agar mengetahui kelemahannya. Mengadakan perubahan dan evaluasi dari proses pengujicobaan untuk meningkatkan mutu program itu. B.3 Fungsi Teknologi Dalam Pembelajaran Secara garis besar di dalam penerapan teknologi sebagai alat bantu mengajar terdapat fungsi-fungsi utama dalam proses pembelajaran, yaitu: Teknologi sebagai alat (tools). Dalam penggunaannya para pengajar maupun para sisiwa dapat terbantu dengan adanya teknologi sehingga mempermudah proses pembelajaran. Misalnya membantu dalam mengolah angka, membuat unsur grafis, membuat data base, merumuskan data administratif siswa,guru, karyawan, dan sebagainya. Teknologi sebagai ilmu pengetahuan (science). Dalam pengaplikasiannya teknologi sebagai disiplin ilmu tersendiri yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan TIK. Sesuai kurikulum terbaru yang menekankan para siswa setingkat SMP ke atas untuk bisa menggunakan secara positif dari kemajuan teknologi yang termasuk bagian dari scinece. Teknologi sebagai alat bantu dan bahan dalam mengajar. dalam hal ini teknologi dimaknai sebagai bahan pembelajaran sekaligus sebagai alat bantu untuk menguasai sebuah kompetensi berbasis komputer. Dalam hal ini komputer telah diprogram sedemikian rupa sehingga siswa dibimbing secara bertahap dengan menggunakan prinsip pembelajaran tuntas untuk menguasai kompetensi. dalam hal ini posisi teknologi tidak ubahnya sebagai guru yang berfungsi sebagai : fasilitator, motivator, transmiter, dan evaluator. Ketiganya merupakan peran masing-masing dari adanya fungsi teknologi dalam dunia pendidikan khususnya dalam media bantu pembelajaran di dalam kelas. Fungsi-fungsi tersebut apabila bisa di lakukan oleh para pendidik dengan sebaik-baiknnya dalam melakukan proses belajar-mengajar maka hal itu akan membantu meminimalisir kinerja guru. Serta tidak menutup kemungkinan akan muncul model-model pembelajaran yang baru yang mengintegrasikan kemajuan teknologi dengan metode belajar yang ada. C. PENGAJARAN C.1 Pengertian Pengajaran Pengajaran dapat didefinisikan sebagai usaha pendidik untuk menciptakan kondisi-kondisi atau mengatur lingkungan kelas sedemikian rupa,sehingga terjadi interaksi antara keduanya, termasuk di dalamnya guru, murid, alat bantu pelajaran, dan sebagainya yang disebut proses belajar, sehingga tercapai tujuan belajar yang telah ditentukan sebelumnya. C.2 Metode-Metode Pengajaran Di dalam suatu pembelajaran dalam kelas terdapat berbagai metode metode pengajaran. Sebelum membahas mengenai hal tersebut alangkah baiknya menegrti definisi dari metode pengajaraan. Metode pengajaran merupakan suatu proses mengorganisasi atau menata sejumlah sumber potensi secara baik dan benar sehingga terjadi proses belajar yang diinginkan. Metode mengajar dapat dikatakan berhasil dilihat dari hasil output peserta didik tersebut. Apabila terdapat sesuatu yang kurang dalam metode yang diaplikasikan ketika mengajar maka dapat terlihat dari output peserta didik sehingga dapat di evaluasi kembali apa yang belum sempurna dari penyelenggaraan metode tersebut. Ahli penididikan sepakat bahwa belum ada satu metode mengajar yang di pandang paling baik, karena baik tidaknya metode mengajar sangat tergantung kepada tujuan pengajaran, materi yang diajarkan, jumlah peserta didik, fasilitas pendukung, kesanggupan tiap individu dan lain sebagainya. Oleh karena itu kegiatan pengajaran dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang sederhana dan kompleks. Atas dasar itu juga, metode-metode yang dipakai oleh pengajar saat ini didasarkan pada praktek-praktek empiris, pendapat para ahli pendidikan, petunjuk orang lain, atau bahkan hanya spekulasi saja. Oleh karena banyak menonjolkan aspek seni dalam mengajar, maka gaya mengajar sesorang tidak dapat dituangkan dalam bentuk format khusus. Adapun metode-metode mengajar yang umum di pakai dalam proses belajar-mengajar di kelas antara lain: metode ceramah, metode diskusi, metode tugas, metode karyawisata, metode seminar, dan masih banyak metode pembelajaran yang lain. Metode Ceramah. Metode ini dapat diartikan sebagai proses penyampaian bahan ajar dengan jalan menuturkan sekelompok materi secara lisan dan pada saat yang beesamaan materi tersebut diterima sekelompok subjek. Metode ini paling sering dipakai, terutama untuk menyampaikan materi yang bersifat teoritis ataupun sebagai pengantar ke arah praktik, meskipun teori ini dianggap klasik (tradisional), metode ini tetap populer. Yang terpenting dari metode ini adalah bagaimana seorang guru dapat berceramah dengan baik dan dapat diterima murid. Metode Diskusi. Diskusi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penyampaian materi, dimana guru bersama peserta didik mengadakan dialog dengan tema mata pelajaran yang diajarkan. Atau guru memberikan suatu permasalahan yang kemudian di dialogkan untuk mencari jalan keluar dan menyerap serta menganalisis permasalahan itu. Metode Tugas. Tugas merupakan materi tambahan yang diberi oleh guru pada murid, baik di dalam maupun di luar kelas. Tugas-tersebut dibebankan untuk menambah wawasan peserta didik serta menambah nilai dari hasil mengerjakan tugas tersebut. Metode Karyawisata. Salah satu strategi belajar mengajar dimana guru dan murid mengunjungi suatu tempat tertentu untuk mendapatkan sesuatu yang empiris. Metode ini biasanya sebagai pelengkap dari materi pokok yang diajarkan dalam kelas atau dari buku-buku. Metode Seminar. Metode ini sering digunakan, baik untuk mata kuliah seminar maupun mata kuliah yang lain yang disajikan dalam bentuk seminar. Dengan metode ini biasanya dapat menjadikan wawasannya bertambah luas. Metode Privat. Metode ini pengajar memberi tuntutan secara penuh. Pembelajaran di berikan secara biasa (dengan bentuk klasikal), dan murid mencatatnya. Berdasarkan catatan yang mereka buat murid harus menyusun lembar kerja. Lembar kerja selanjutnya akan dibahas dengan pengajar, dalam lembar kerja tersebut pengajar akan memeriksa secara teliti, sehingga mengetahui yang dijelaskan guru benar-benar dimengerti oleh murid . Dari pemaparan di atas sangat banyak metode-metode yang bisa digunakan oleh guru dalam pengaplikasianya di kelas. Para gurupun bisa memilih salah satu dari metode tersebut atau justru bereksperiment dengan metode yang mereka buat sendiri. Namun sampai saat ini belum ada metode mengajar yang tepat dan fleksibel di berbagai bentuk pengajaran yang ada. C.3 Mengajar Sebagai Ilmu dan Teknologi Pengajaran yang berbasis dengan ilmu dan teknologi (teaching fundamentally is a science) sangatlah membantu peserta didik dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Konsep mengajar sebagai ilmu dan teknologi mengatakan bahwa mengajar adalah pengembangan, penerapan, penilaian teknik serta alat bantu yang dilakukan secara ilmiah dan menggunakan teknologi tertentu. Adapun karakteristik dari mengajar sebagai ilmu dan teknologi adalah sebagai berikut: Menggunakan pendekatan teknologis. Sistematis, logis, dan ilmiah. Melibatkan perangkat keras (hardware) serta perangkat lunak (software). Interaksi yang menonjol ialah interaksi murid-mesin atau teknologi. Kurang memperhatikan aspek emosional. Peranan guru lebih banyak dalam hal fasilitator. Hal-hal tersebut merupakan karakteristik pengajaran yang berbasis teknologi.. Biasanya sekolah-sekolah yang menerapkan karakteristik tersebut ialah sekolah yang berada di perkotaan. Dikarenakan pendidikan di perkotaan sangatlah ketat persaingannya di dalam meningkatkan mutu sekolah supaya dapat menarik minat para calon peserta didik baru. D. HIPOTESA Dengan adanya pembahasan di atas dapat di tarik benang merahnya bahwa dunia kependidikan membutuhkan adanya peran kemajuan teknologi. Jadi hipotesa yang penulis simpulkan dari landasan teori di atas adalah: “Terdapat hubungan antara kemajuan teknologi dengan metode pengajaran dalam kelas” BAB III PERHITUNGAN DATA Dari pemaparan hipotesa di atas yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kemajuan teknologi dengan metode pengajaran dalam kelas. Yang apabila di masukan dalam variabel sebagai berikut: Ket: - Variabel X: Kemajuan Teknologi - Variabel Y: Metode Pengajaran dalam kelas Hipotesis Analisisnya ialah: -Hipotesis Alternatif (Ha)-nya adalah: Ada korelasi antara kemajuan teknologi dengan metode pengajaran dalam kelas. - Hipotesis Nihil (H0)-nya adalah: Tidak ada korelasi antara kemajuan teknologi dengan metode pengajaran dalam kelas. Variabel X dan Y apabila di masukkan dalam data perhitungan menjadi: No. X Y 1 5 6 2 7 5 3 9 5 4 6 4 5 5 5 6 5 8 7 6 8 8 7 8 9 8 7 10 6 7 11 7 5 12 9 6 13 8 6 14 7 7 15 6 7 16 5 8 17 6 9 18 4 9 19 7 9 20 9 8 21 6 7 22 4 5 23 7 5 24 4 5 25 8 7 26 9 7 27 9 8 28 7 7 29 7 6 30 6 6 Tabel Penyelesaiannya sebagai berikut: No. X Y X.Y X2 Y2 1 5 6 30 25 36 2 7 5 35 49 25 3 9 5 45 81 25 4 6 4 24 36 16 5 5 5 25 25 25 6 5 8 40 25 64 7 6 8 48 36 64 8 7 8 56 49 64 9 8 7 56 64 49 10 6 7 42 36 49 11 6 5 30 36 25 12 9 6 54 81 36 13 8 6 48 64 36 14 7 7 49 49 49 15 6 7 42 36 49 16 5 8 40 25 64 17 6 9 54 36 81 18 4 9 36 16 81 19 7 9 63 49 81 20 9 8 72 81 64 21 6 7 42 36 49 22 4 5 20 16 25 23 7 5 35 49 25 24 4 5 20 16 25 25 8 7 56 64 49 26 9 7 63 81 49 27 9 8 72 81 64 28 7 7 49 49 49 29 7 6 42 49 36 30 6 6 36 36 36 ∑ X= 198 ∑ Y= 200 ∑X.Y= 1324 ∑ X2= 1376 ∑ Y2= 1390 rxy = (N ( ∑XY)- (∑X . ∑Y))/√((N.(∑X^2 )–(∑X)^(2 ). N (∑Y^2 )- (∑Y)^(2 ))) = (30 ( 1324)- (198 .200))/√((30.(1376 )–(198)^(2 ). 30 (1390)- (200)^(2 ))) = (39720-39600)/√((41280–(39204)^ . 41700-(40000))) = 120/√(2076.1700 ) = 120/√3529200 = 120/1878.61 = 0.063 Df = N – nr = 30 – 2 = 28 Keterangan: N : Number of cases nr : banyaknya variabel yang dikorelasikan rhitung = 0.063 rtabel pada taraf signifikansi 5% = 0,361 pada taraf signifikansi 1% = 0,463 Dengan demikian rxy = 0,063 lebih kecil dari r tabel pada taraf signifikan 5% maupun 1% (0,361>0,063
Related Posts with Thumbnails

.

Categories

Blog Archive

Followers

Visitors

free counters